Kenapa “Bulan Depan” Diterjemahkan Next Month?
Pernahkah kita bertanya mengapa istilah bulan depan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi next month dalam bahasa Inggris? Pertanyaan ini tampaknya sederhana. Bahkan, bagi pembelajar bahasa Inggris, next month mungkin termasuk ungkapan yang dipelajari sejak tingkat dasar.
Dalam bahasa Indonesia, istilah yang kita gunakan adalah bulan depan.
Secara harfiah, depan berarti front. Namun, kita tidak mengatakan front month. Kita mengatakan next month.
Hal yang sama terjadi pada:
· minggu depan → next week
· tahun depan → next year
· Senin depan → next Monday
Lalu, mengapa depan menjadi next, bukan front?
Jawabannya membawa kita pada sebuah gagasan penting dalam linguistik:
bahasa tidak hanya memberi nama pada dunia, tetapi juga mencerminkan bagaimana manusia mengonstruksi dan mengorganisasi pengalaman mereka.
Bahasa Bukan Sekadar Kumpulan Padanan Kata
Ketika belajar bahasa asing, kita sering menganggap bahwa setiap kata mempunyai “pasangan” dalam bahasa lain.
Buku = book.
Rumah = house.
Depan = front.
Cara berpikir seperti ini memang membantu pada tahap awal pembelajaran bahasa. Namun, semakin tinggi tingkat kemahiran seseorang, semakin jelas bahwa bahasa tidak bekerja seperti kamus dua arah.
Satu kata dalam bahasa asal tidak selalu mempunyai satu padanan langsung dalam bahasa kedua.
Kata “depan”, misalnya, dapat diterjemahkan menjadi front ketika berbicara tentang lokasi fisik:
The car is in front of the house.
Tetapi dalam bulan depan, depan tidak lagi menunjukkan lokasi fisik. Kata tersebut digunakan untuk mengonstruksi hubungan kita dengan waktu.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Ketika Waktu Dipahami melalui Ruang
Dalam cognitive linguistics, konsep abstrak sering dipahami melalui pengalaman yang lebih konkret. Salah satu konsep yang banyak dikaji adalah bagaimana manusia memahami waktu melalui ruang.
George Lakoff dan Mark Johnson melalui Conceptual Metaphor Theory menunjukkan bahwa metafora bukan hanya hiasan bahasa. Metafora dapat menjadi bagian dari cara manusia berpikir dan mengorganisasi pengalaman.
Waktu adalah contoh yang sangat jelas.
Kita tidak dapat melihat “waktu” seperti kita melihat meja atau kursi. Kita tidak dapat memegang hari Senin, menyentuh tahun 2030, atau menunjuk masa depan sebagai sebuah benda.
Namun, kita berbicara tentang waktu seolah-olah waktu memiliki posisi dalam ruang.
Dalam bahasa Inggris, misalnya, kita mengatakan:
· The future is ahead of us.
· I look forward to the holiday.
· We need to move the meeting back.
· She is falling behind schedule.
Semua ungkapan tersebut menggunakan konsep ruang untuk membicarakan waktu.
Dengan kata lain, TIME IS SPACE atau lebih khusus lagi, waktu dikonstruksikan melalui orientasi spasial seperti front/back atau ahead/behind. Penelitian mengenai metafora waktu menunjukkan bahwa pola semacam ini bukan kebetulan linguistik, tetapi merupakan bagian dari sistem konseptual yang cukup produktif.
Lalu Mengapa “Depan” Menjadi Next?
Di sinilah kita perlu membedakan dua konsep: posisi dan urutan.
Dalam bahasa Indonesia, ketika kita mengatakan: bulan depan,
kita menggunakan depan untuk menunjukkan waktu yang akan datang setelah waktu sekarang.
Penelitian tentang konstruksi spasial waktu dalam bahasa Indonesia secara khusus menunjukkan bahwa bentuk seperti tahun depan, bulan depan, minggu depan, dan Senin depan memang mengonstruksikan masa depan dengan konsep depan. Bahkan, masa depan secara literal dapat dipahami sebagai “period front”.
Bahasa Inggris memilih cara yang sedikit berbeda.
Dalam:
next month
kata next terutama menandai urutan: sesuatu yang mengikuti titik acuan sekarang.
Bayangkan sebuah deretan:
this month → next month → the following month
Dengan demikian, next month secara konseptual bukan “bulan yang berada di depan”, melainkan bulan yang datang berikutnya dalam urutan waktu.
Ini menjelaskan mengapa:
bulan depan → next month
dan bukan: front month
Sementara itu, ketika front benar-benar digunakan untuk menunjukkan posisi ruang, kita memang menggunakan front:
The student is sitting in front of me.
Jadi, secara sederhana:
front → posisi spasial
next →
posisi atau urutan relatif dalam sebuah rangkaian
Tentu saja, batas ini tidak absolut. Bahasa Inggris sendiri juga menggunakan orientasi ruang untuk waktu, seperti ahead, behind, dan forward. Jadi, persoalannya bukan bahwa bahasa Inggris “tidak mengenal” konsep waktu sebagai ruang. Persoalannya adalah bahasa memiliki pilihan konvensional yang berbeda dalam memetakan ruang, urutan, dan waktu.
Menariknya, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Sama-Sama “Membawa” Waktu
Di titik ini, kita perlu berhati-hati agar tidak mengatakan bahwa bahasa Indonesia melihat waktu dengan cara spasial sedangkan bahasa Inggris tidak.
Keduanya melakukannya.
Dalam bahasa Indonesia kita menemukan:
masa
depan
bulan depan
tahun depan
melihat ke belakang
beberapa tahun ke belakang
masa yang akan datang
Penelitian Rajeg, Siahaan, dan Gaby menunjukkan bahwa penutur bahasa Indonesia secara produktif menggunakan dimensi spasial untuk mengonstruksikan waktu. Data bahasa dan gesture bahkan menunjukkan kecenderungan menghubungkan masa depan dengan ruang di depan dan masa lalu dengan ruang di belakang.
Bahasa Inggris juga memiliki pola yang sangat kuat:
the
future is ahead
the past is behind
look forward to
move forward
fall behind
Dengan demikian, perbedaannya bukan sekadar Indonesia = depan, Inggris = next.
Yang lebih tepat adalah:
Kedua bahasa sama-sama menggunakan pengalaman spasial dan temporal, tetapi mengemas hubungan tersebut melalui pilihan leksikal dan konstruksi yang tidak selalu sama.
Inilah salah satu alasan mengapa terjemahan kata demi kata sering menghasilkan bahasa Inggris yang terdengar “masuk akal” tetapi sebenarnya tidak idiomatis.
Masalahnya Muncul di Kelas Bahasa Inggris
Sekarang kita masuk ke persoalan pedagogis.
Bayangkan seorang mahasiswa Indonesia diberi tugas menerjemahkan:
“Saya akan mengumpulkan tugas bulan depan.”
Ia mungkin berpikir:
bulan
= month
depan = front
Maka muncul:
I will submit the assignment in front month.
Secara individual, mahasiswa tersebut sebenarnya tidak “tidak tahu kosakata”. Ia tahu month. Ia tahu front.
Masalahnya adalah cara ia memetakan konsep L1 ke L2.
Ini merupakan contoh yang menarik dari cross-linguistic influence atau L1 transfer.
Pembelajar tidak datang ke kelas dengan pikiran yang kosong. Mereka membawa sistem konseptual dari bahasa pertama. Ketika menemukan konsep dalam bahasa kedua, mereka sering mencoba menghubungkan konsep tersebut dengan sistem yang sudah mereka miliki.
Akibatnya, mereka dapat menghasilkan bentuk yang secara literal dapat dipahami, tetapi tidak sesuai dengan konvensi bahasa Inggris.
Kajian tentang temporal metaphor dalam pembelajaran bahasa kedua juga menunjukkan bahwa pembelajar dapat menghasilkan ekspresi metaforis yang secara literal masuk akal tetapi tidak idiomatis karena pengaruh bahasa pertama dan kurangnya pemahaman semantik dalam bahasa kedua.
Jadi, kesalahan seperti front month seharusnya tidak selalu dipandang sekadar sebagai “wrong vocabulary”.
Bisa jadi masalahnya jauh lebih dalam:
The learner is using the conceptual system of the first language to make sense of the second language.
Dari “Vocabulary Teaching” ke “Conceptual Teaching”
Di sinilah pembelajaran bahasa Inggris dapat mengambil pelajaran penting.
Kita sering mengajarkan:
next = berikutnya
lalu memberikan contoh:
next
week
next month
next year
Mahasiswa mungkin berhasil menghafalnya.
Tetapi pembelajaran akan menjadi lebih bermakna jika guru bertanya:
Why does English say next month while Indonesian says bulan depan?
Pertanyaan sederhana tersebut membuka pintu menuju conceptual awareness.
Mahasiswa dapat membandingkan:
|
Indonesian |
English |
|
bulan depan |
next month |
|
minggu depan |
next week |
|
tahun depan |
next year |
|
Senin depan |
next Monday |
|
tahun lalu |
last year |
|
minggu lalu |
last week |
|
tiga hari yang lalu |
three days ago |
|
dua minggu mendatang |
in the next two weeks |
Kemudian mahasiswa diminta menemukan pola.
Mereka akan mulai menyadari bahwa bahasa Inggris tidak selalu memetakan konsep melalui kata yang sama dengan bahasa Indonesia.
Aktivitas Kelas: “Why Not Front Month?”
Fenomena ini bahkan dapat dijadikan mini inquiry activity dalam kelas EFL.
Guru dapat menulis di papan:
bulan depan → next month
Kemudian bertanya:
Why isn't it front month?
Mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk mencari contoh lain:
· depan
· belakang
· atas
· bawah
· masuk
· keluar
· naik
· turun
Kemudian mereka mencari apakah kata-kata tersebut memiliki padanan literal yang sama dalam bahasa Inggris.
Misalnya:
di
depan saya
→ in front of me
bulan depan
→ next month
tahun depan
→ next year
melihat ke depan
→ look ahead
masa depan
→ the future
Dari sini mahasiswa dapat membuat kesimpulan:
One Indonesian word may correspond to different English expressions depending on the concept being expressed.
Ini jauh lebih mendalam daripada sekadar menghafalkan daftar kosakata.
Bahasa dan Budaya: Apakah Ini Berarti Orang Indonesia dan Orang Inggris “Berpikir Berbeda”?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kita perlu menghindari klaim bahwa satu bahasa menentukan cara berpikir penuturnya secara mutlak. Hubungan antara bahasa, pikiran, dan budaya jauh lebih kompleks.
Namun, penelitian dalam cognitive linguistics menunjukkan bahwa bahasa menyediakan conventionalized ways of conceptualizing experience—cara-cara yang secara konvensional digunakan sebuah komunitas untuk membicarakan dan memahami pengalaman.
Bahkan, penelitian lintas bahasa menunjukkan bahwa representasi waktu dapat dipengaruhi oleh pola bahasa, pengalaman budaya, dan sistem spasial yang tersedia dalam lingkungan seseorang.
Karena itu, belajar bahasa asing juga berarti belajar bagaimana sebuah komunitas biasanya mengemas pengalaman ke dalam bahasa.
Inilah yang sering hilang ketika pembelajaran bahasa hanya berfokus pada:
vocabulary + grammar + translation.
Pembelajar juga perlu memperoleh conceptual and cultural awareness.
Implikasi untuk Pembelajaran Bahasa Inggris
Fenomena bulan depan → next month memberikan setidaknya empat pelajaran bagi pengajaran bahasa Inggris.
1. Jangan selalu mengajarkan kosakata sebagai padanan satu-ke-satu
Guru sebaiknya tidak berhenti pada:
depan = front
Tetapi menunjukkan bahwa makna bergantung pada context and conceptualization.
2. Gunakan perbandingan L1–L2 secara produktif
Perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat menjadi learning resource, bukan sekadar sumber kesalahan.
Mahasiswa dapat diminta menemukan:
What is the literal
meaning?
What is the conventional English expression?
Why might the two languages express the idea differently?
3. Ajarkan pola, bukan hanya kata
Daripada menghafalkan: next = berikutnya
mahasiswa perlu melihat pola:
next week
next month
next year
the next step
the next chapter
Dengan demikian, mereka memahami next sebagai bagian dari sistem makna yang lebih luas.
4. Masukkan conceptual metaphor ke dalam pembelajaran
Metafora konseptual tidak harus diajarkan sebagai teori linguistik yang berat. Ia dapat digunakan sebagai teaching strategy.
Penelitian dalam ELT menunjukkan bahwa pendekatan berbasis conceptual metaphor dapat membantu pembelajar memahami hubungan antara bentuk bahasa, makna, dan ungkapan figuratif.
Bahkan, penelitian yang lebih baru menegaskan bahwa pemahaman terhadap metafora konseptual dapat membantu pembelajar memahami jaringan makna bahasa dan karakteristik bahasa lain dari sisi cara bahasa tersebut mengonstruksikan pengalaman.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Pelajari dari “Bulan Depan”?
Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa bulan depan menjadi next month?” bukan sekadar pertanyaan tentang vocabulary.
Istilah ini mengajarkan kita bahwa:
Words do not simply label reality. They organize experience.
Bahasa Indonesia memilih depan untuk mengonstruksikan waktu yang akan datang dalam ungkapan seperti bulan depan. Bahasa Inggris, dalam next month, memilih penanda yang menekankan urutan atau sesuatu yang mengikuti titik acuan.
Keduanya sama-sama berbicara tentang waktu. Keduanya sama-sama menggunakan pengalaman manusia untuk memahami sesuatu yang abstrak. Namun, keduanya tidak selalu menggunakan jalan konseptual yang persis sama.
Dan justru di situlah menariknya belajar bahasa.
Belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar mengatakan sesuatu dengan kata-kata bahasa Inggris. Lebih jauh lagi, kita belajar memahami mengapa penutur bahasa Inggris mengatakan sesuatu dengan cara tersebut.
Maka, ketika seorang mahasiswa bertanya:
“Bu, kenapa bulan depan itu next month, bukan front month?”
mungkin jawabannya bukan sekadar:
“Karena memang begitu bahasa Inggrisnya.”
Jawaban yang lebih menarik adalah:
“Because languages do not always package the same experience in the same conceptual way. Let's find out how English organizes time—and why.”
Dan dari satu pertanyaan kecil tentang bulan depan, kita sebenarnya sudah masuk ke wilayah linguistics, cognition, culture, and language pedagogy.
Barangkali memang begitu cara terbaik belajar bahasa: bukan hanya bertanya “What does this word mean?”, tetapi juga “Why does this language say it this way?”