ABLEISM
Pernah nggak kalian melihat seseorang kesulitan melakukan sesuatu, lalu refleks ingin membantu? Belum sempat orangnya ngomong, kita sudah turun tangan. Tasnya kita bawakan, pekerjaannya kita ambil alih, atau kalimatnya kita lanjutkan karena dia dianggap terlalu lama menjelaskan.
Niatnya baik, kok. Kita kan mau membantu. Kita bukan penjahat di film yang bangun tidur langsung merencanakan diskriminasi.
Tapi, pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya: orang ini benar-benar membutuhkan bantuan, atau saya saja yang tidak sabar menunggu?
Pertanyaan sederhana itu bisa membawa kita pada satu istilah yang mungkin belum terlalu akrab di telinga: ableism.
Ableism adalah prasangka, sikap, atau praktik yang mendiskriminasi dan membatasi seseorang berdasarkan disabilitasnya. Kedengarannya serius, ya? Memang. Namun, kemunculannya tidak selalu dramatis seperti adegan orang diusir dari sebuah gedung. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat biasa: asumsi kecil yang kita buat tentang kemampuan orang lain.
Dan bagian yang agak bikin kita salah tingkah adalah ini: orang yang melakukannya tidak selalu punya niat buruk. Bisa jadi, kita sendiri pernah melakukannya.
Kita Suka Menebak Kemampuan Orang. Sayangnya, Bukan Peramal.
Coba bayangkan situasi di kelas.
Dosen mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris. Seorang mahasiswa langsung menjawab dengan lancar. Mahasiswa lain masih berpikir, menata kata-kata, dan mencoba menyusun kalimat. Tiga detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik.
Dalam kepala kita, mungkin sudah muncul komentar: “Waduh, bahasa Inggrisnya kurang, nih.”
Padahal, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi mahasiswa itu sedang memproses pertanyaan, mengalami kecemasan ketika harus berbicara spontan, atau membutuhkan cara komunikasi yang berbeda. Tentu saja, bisa juga dia memang belum memahami materi. Kita tidak tahu sebelum mendapatkan informasi yang cukup.
Masalahnya, otak kita memang suka jalan pintas. Sedikit informasi, langsung dibuatkan kesimpulan. Hemat waktu, tetapi kadang boros keadilan.
Kita juga sering menyamakan kemampuan dengan penampilannya. Yang lancar berbicara dianggap pintar. Yang percaya diri dianggap kompeten. Yang mampu menyelesaikan tugas dengan cepat dianggap lebih siap menghadapi tantangan.
Padahal, kita semua tahu bahwa manusia tidak sesederhana itu. Ada orang yang pintar berbicara tetapi kesulitan menulis. Ada yang cemerlang dalam analisis tetapi tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Ada pula yang membutuhkan akomodasi tertentu untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Jadi, mungkin masalahnya bukan karena kita selalu salah menilai orang. Masalahnya adalah kita terkadang terlalu cepat merasa benar.
“Sudah, Sini Biar Saya Saja!”
Kalimat ini terdengar akrab, terutama ketika kita sedang sibuk, dikejar tenggat, dan merasa semua pekerjaan harus selesai sebelum matahari terbenam.
Dalam kerja kelompok, misalnya, ada mahasiswa penyandang disabilitas yang membutuhkan penyesuaian tertentu untuk mengerjakan tugas. Temannya langsung berkata, “Sudah, kamu bagian ini saja. Yang itu biar kami yang mengerjakan.”
Mungkin tujuannya supaya pekerjaan lebih cepat selesai. Mungkin juga karena teman-temannya khawatir dia kesulitan. Tidak ada yang bermaksud menyakiti.
Namun, tanpa disadari, keputusan itu bisa menghilangkan kesempatan mahasiswa tersebut untuk berkontribusi, mencoba keterampilan baru, dan belajar menghadapi tantangan bersama kelompoknya.
Kita sering mengira membantu berarti mengambil alih. Padahal, membantu bisa sesederhana bertanya, “Kamu nyaman mengerjakan bagian yang mana?” atau “Ada yang bisa kami sesuaikan supaya kamu bisa mengerjakan tugas ini?”
Bedanya memang tipis, tetapi dampaknya bisa besar. Yang pertama berangkat dari asumsi bahwa kita tahu kemampuan orang lain. Yang kedua memberi ruang bagi orang tersebut untuk menjelaskan kebutuhannya sendiri.
Dan sejujurnya, kita semua mungkin pernah berada di kedua sisi situasi ini. Pernah mengambil alih pekerjaan orang karena ingin membantu, tetapi pernah juga merasa kesal ketika orang lain tidak memberi kita kesempatan untuk mencoba.
Barangkali, kita tidak perlu buru-buru menghakimi diri sendiri. Cukup mulai menyadari bahwa bantuan yang baik tidak selalu berarti melakukan sesuatu untuk orang lain. Kadang-kadang, bantuan terbaik adalah memastikan mereka tetap punya kendali atas pilihannya.
Di Kelas Bahasa Inggris, Yang Dinilai Bahasanya atau Kesabarannya?
Sebagai pengajar bahasa, kita tentu ingin mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik. Kita ingin mereka berani berbicara, menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan menggunakan bahasa Inggris dalam situasi nyata.
Namun, mari kita jujur sebentar.
Ketika mahasiswa berbicara terlalu pelan, kita mungkin ingin segera menyelesaikan kalimatnya. Ketika dia membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab, kita mulai melirik jam. Ketika presentasinya tidak berjalan mulus, kita mungkin buru-buru menyimpulkan bahwa persiapannya kurang matang.
Semua itu bisa saja benar dalam situasi tertentu. Tetapi, bagaimana jika kita belum mempertimbangkan faktor lain yang memengaruhi performanya?
Mahasiswa dengan hambatan komunikasi, misalnya, mungkin memerlukan dukungan tertentu agar dapat berpartisipasi. Mahasiswa dengan disabilitas sensorik mungkin menghadapi hambatan ketika mengakses materi audio atau visual yang tidak disediakan dalam format alternatif. Mahasiswa dengan kondisi tertentu mungkin membutuhkan waktu pemrosesan lebih panjang sebelum merespons pertanyaan.
Jika kita hanya menyediakan satu cara untuk belajar dan menunjukkan kemampuan, mahasiswa yang tidak cocok dengan cara tersebut berisiko dinilai kurang kompeten.
Bayangkan mengikuti ujian renang, tetapi kolamnya hanya bisa diakses melalui tangga yang tidak bisa digunakan semua peserta. Kemudian, peserta yang tidak bisa masuk kolam dinyatakan tidak memiliki kemampuan berenang. Kita mungkin perlu memeriksa kembali desain ujiannya sebelum menyimpulkan sesuatu tentang kemampuan pesertanya.
Tentu, analogi ini tidak berarti semua standar harus diubah atau semua kesulitan berasal dari lingkungan. Kompetensi tetap perlu dinilai berdasarkan capaian pembelajaran. Namun, kita perlu memastikan bahwa hambatan yang tidak relevan dengan kompetensi yang diukur tidak ikut menentukan hasil penilaian.
Sebab, kemampuan bahasa Inggris bukan lomba siapa yang paling cepat menjawab pertanyaan dosen. Dan kemampuan akademik tidak otomatis terlihat dari siapa yang paling nyaman berbicara di depan kelas.
Ketika Kita Terlalu Baik Sampai Membatasi Orang Lain
Ada bentuk ableism yang menarik untuk direnungkan: ekspektasi yang terlalu rendah.
Misalnya, seorang dosen tidak memberikan tugas presentasi yang menantang kepada mahasiswa penyandang disabilitas karena khawatir dia akan kesulitan. Seorang teman selalu mengerjakan bagian tersulit dalam tugas kelompok karena menganggap temannya tidak akan mampu. Atau seseorang memuji pencapaian sederhana secara berlebihan hanya karena orang yang melakukannya memiliki disabilitas.
Sekilas, semua ini terlihat seperti perhatian. Tetapi, coba kita balik situasinya.
Bagaimana jika kita sendiri yang selalu dianggap tidak mampu sebelum mencoba? Bagaimana rasanya ketika orang lain terus-menerus menurunkan ekspektasi terhadap kita, bahkan ketika kita sebenarnya ingin berkembang?
Tidak enak, bukan?
Tentu saja, setiap mahasiswa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Memberikan akomodasi bukan berarti menurunkan standar secara sembarangan. Justru, akomodasi yang tepat memungkinkan mahasiswa mengakses pembelajaran dan menunjukkan kompetensinya secara lebih adil.
Kita bisa tetap memberikan tantangan tanpa mengabaikan kebutuhan. Kita bisa tetap menetapkan standar tanpa berasumsi bahwa semua orang harus menempuh jalan yang sama untuk mencapainya.
Kadang-kadang, menghargai seseorang berarti berani melihat potensinya tanpa berpura-pura bahwa hambatannya tidak ada.
Efek Domino yang Tidak Selalu Kita Sadari
Bayangkan seorang mahasiswa yang beberapa kali merasa dipandang sebelah mata ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Dia pernah dipotong ketika sedang menyusun kalimat. Pernah dianggap tidak siap karena membutuhkan waktu lebih lama. Pernah pula tidak diberi kesempatan mengambil peran penting dalam kerja kelompok.
Tidak harus ada satu peristiwa besar yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Pengalaman-pengalaman kecil yang berulang pun dapat memengaruhi kenyamanannya untuk berpartisipasi.
Lama-kelamaan, dia mungkin memilih diam. Bukan karena tidak punya gagasan, melainkan karena berbicara terasa melelahkan. Dia mungkin menghindari presentasi, enggan bertanya, atau menyerahkan tugas komunikasi kepada teman lain.
Akibatnya, kesempatan untuk berlatih bahasa, menerima umpan balik, membangun keterampilan interpersonal, dan mengembangkan kepemimpinan menjadi lebih terbatas.
Tentu, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa setiap mahasiswa yang diam mengalami hal seperti ini. Diam punya banyak alasan. Namun, kita juga tidak boleh langsung menganggap diam sebagai bukti ketidakmampuan.
Di sinilah lingkungan belajar memiliki peran penting. Kita mungkin tidak bisa menghilangkan semua kesulitan yang dialami mahasiswa, tetapi kita bisa menghindari penambahan hambatan yang sebenarnya tidak perlu.
Dan bukankah itu bagian dari tugas kita sebagai pendidik?
Bukan membuat semua mahasiswa memiliki pengalaman yang identik, melainkan menyediakan kesempatan yang adil agar mereka dapat berkembang.
Jadi, Apakah Kita Harus Merasa Bersalah?
Rasa bersalah terkadang membuat kita sibuk membela diri: “Saya kan cuma mau membantu.” “Saya tidak bermaksud begitu.” “Saya tidak pernah mendiskriminasi siapa pun.”
Semua itu mungkin benar. Namun, niat dan dampak tidak selalu berjalan beriringan.
Kita bisa berniat baik sekaligus membuat asumsi yang keliru. Kita bisa menghargai penyandang disabilitas sekaligus belum menyadari bahwa cara mengajar atau menilai kita menciptakan hambatan. Kita bisa menjadi orang yang peduli sekaligus masih perlu belajar.
Dan itu manusiawi.
Yang lebih penting bukan membuktikan bahwa kita tidak pernah melakukan ableism, melainkan bersedia memeriksa kebiasaan kita ketika menyadari ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Lain kali ketika kita ingin mengambil alih pekerjaan seseorang, mungkin kita bisa bertanya terlebih dahulu apakah dia membutuhkan bantuan. Ketika mahasiswa membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab, mungkin kita bisa memberinya ruang sebelum menyimpulkan kemampuannya. Ketika merancang tugas, mungkin kita bisa memeriksa apakah cara pengerjaannya benar-benar berkaitan dengan kompetensi yang hendak dinilai.
Tidak perlu menjadi manusia paling inklusif sedunia mulai Senin pagi. Kita bahkan belum tentu berhasil mengingat semua prinsip ini ketika tenggat sudah dekat dan rapat belum selesai.
Mulai saja dari satu kebiasaan kecil: jangan terlalu cepat memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan orang lain.
Sebelum Kita Menutup Artikel Ini...
Coba ingat kembali interaksi kita dengan mahasiswa, rekan kerja, teman, atau orang yang kita temui sehari-hari.
Pernahkah kita membantu tanpa bertanya? Pernahkah kita menurunkan ekspektasi karena menganggap seseorang tidak akan mampu? Pernahkah kita menyamakan cara seseorang berkomunikasi dengan tingkat kecerdasannya?
Kalau jawabannya pernah, kita tidak perlu langsung memasukkan diri ke dalam kategori orang jahat. Ini bukan sidang etik, dan tidak ada hakim yang sedang mengetuk palu di meja kita.
Namun, mungkin ada baiknya kita pertimbangkan hal berikut ini:
Ketika kita menilai seseorang tidak mampu, apakah kita sudah benar-benar memahami kemampuannya? Atau jangan-jangan, kita hanya belum terbiasa melihat kemampuan yang ditunjukkan dengan cara berbeda?
Sebab, terkadang, batas yang kita lihat pada orang lain bukan sepenuhnya batas kemampuan mereka. Bisa jadi, itu adalah batas dari cara kita memahami mereka.
Dan siapa tahu, ketika kita mulai mengubah cara pandang tersebut, kita bukan hanya membantu mahasiswa berkembang. Kita juga sedang belajar menjadi manusia yang sedikit lebih bijaksana—tanpa harus kehilangan selera humor terhadap diri sendiri.