Wuthering Heights
Pernah dengar Wuthering Heights? Atau mungkin kamu pernah lihat judul itu lewat saat berselancar di internet, tapi belum pernah benar-benar merasa “ingin”membacanya?
Biasanya reaksinya sama: klasik, tebal, bahasanya susah, ceritanya gelap. Jadi ditunda. Nanti saja.
Padahal menariknya, banyak karya yang kita kira berat itu sebenarnya cuma belum kita kenal cara masuknya. Begitu pintunya ketemu, ceritanya justru terasa sangat dekat—bahkan pribadi. Wuthering Heights termasuk yang seperti itu.
Wuthering Heights ditulis oleh Emily Brontë, perempuan Inggris abad ke-19 yang hidupnya sederhana dan tidak terlalu dikenal semasa hidupnya. Ia hanya menulis satu novel. Satu saja. Tetapi justru karya tunggal itu yang membuat namanya abadi. Kadang memang begitu: tidak banyak bicara, tapi sekali bersuara, dalam.
Ceritanya tentang dua manusia: Heathcliff dan Catherine. Mereka tidak bertemu sebagai pasangan romantis seperti dalam kisah cinta pada umumnya. Mereka tumbuh bersama. Sejak kecil. Di rumah yang sama. Di alam liar yang sama. Di ruang batin yang sama.
Heathcliff itu anak yatim yang diambil oleh keluarga Catherine. Statusnya rendah, tidak jelas asalnya, tidak punya apa-apa. Tetapi di mata Catherine kecil, itu tidak penting. Mereka berlari di padang, melawan angin, dan berbagi kebebasan yang sama. Ikatan mereka bukan dibangun oleh logika, tapi oleh kebersamaan yang sangat dalam.
Masalahnya muncul ketika manusia mulai dewasa. Dunia sosial mulai masuk. Ada ukuran: siapa layak, siapa tidak. Siapa setara, siapa tidak. Catherine tahu ia mencintai Heathcliff. Tetapi ia juga tahu Heathcliff tidak punya posisi. Tidak punya nama. Tidak punya masa depan yang dianggap “aman.”
Di titik itulah pilihan terjadi. Catherine memilih menikah dengan pria lain—yang lebih mapan, lebih dihormati, lebih sesuai standar. Secara sosial, itu keputusan yang benar. Secara batin, itu pengkhianatan pada dirinya sendiri.
Dan di situlah cerita ini berubah arah.
Heathcliff tidak marah dengan cara biasa. Ia tidak meledak sekali lalu selesai. Ia membawa luka itu pergi bersamanya. Diam. Menghilang. Lalu kembali bertahun-tahun kemudian sebagai pria yang sudah berubah: kaya, keras, dan dingin. Seolah seluruh hidupnya sejak ditinggalkan hanya punya satu bahan bakar—rasa sakit.
Yang membuat kisah ini kuat bukan karena mereka saling mencintai. Banyak kisah cinta di dunia. Yang membuatnya kuat adalah karena cinta itu tidak pernah selesai. Ia tidak menemukan bentuk sehat. Ia tidak diberi ruang hidup. Ia terpotong oleh pilihan yang salah arah.
Dan ketika sesuatu yang sangat dalam terputus seperti itu, ia tidak hilang—ia berubah bentuk.
Di Wuthering Heights, cinta berubah menjadi obsesi. Menjadi dendam. Menjadi keterikatan yang bahkan kematian pun tidak bisa memutus. Catherine meninggal. Tetapi bagi Heathcliff, itu bukan akhir. Ia tetap hidup bersama bayangan Catherine. Ia tidak bisa melepaskan, tidak bisa memulai, tidak bisa berdamai.
Di sini kita mulai melihat bahwa novel ini sebenarnya tidak sedang bercerita tentang romantisme. Ia bercerita tentang identitas. Tentang bagaimana seseorang bisa merasa dirinya terhubung begitu dalam dengan orang lain, sampai kehilangan orang itu terasa seperti kehilangan diri sendiri. Catherine pernah mengatakan bahwa dirinya dan Heathcliff itu satu jiwa. Kalimat ini sering dianggap puitis. Tetapi kalau dipikir, itu juga menakutkan.
Karena kalau identitasmu melekat pada orang lain, apa yang terjadi ketika orang itu hilang?
Itulah tragedi sebenarnya dalam Wuthering Heights. Bukan sekadar cinta yang gagal, tetapi diri yang tidak lagi utuh.
Novel ini juga terasa relevan karena konflik yang dihadirkannya sangat manusiawi: pilihan antara hati dan penerimaan sosial. Banyak orang, di berbagai budaya, pernah berada di posisi Catherine—memilih yang “masuk akal” menurut dunia, tetapi tidak sesuai dengan suara batin. Novel ini tidak menghakimi Catherine. Ia hanya menunjukkan konsekuensi emosional dari pilihan itu.
Dan konsekuensi itu tidak berhenti pada satu orang. Luka Heathcliff menjalar ke orang-orang di sekitarnya, bahkan ke generasi berikutnya. Seolah rasa sakit yang tidak selesai akan mencari jalan untuk terus hidup. Ini terasa sangat modern, karena hari ini kita sering bicara tentang trauma yang diwariskan, tentang bagaimana pengalaman emosional seseorang memengaruhi lingkarannya.
Emily Brontë menulis ini jauh sebelum psikologi modern membahasnya.
Lalu bagaimana dengan bahasa Inggrisnya? Jujur saja, banyak mahasiswa merasa novel ini sulit. Bahasanya memang klasik, kalimatnya panjang, metaforanya padat. Tetapi justru di situlah kekayaannya.
Di novel ini, bahasa Inggris tidak hanya menyampaikan informasi—ia menyampaikan perasaan. Kata-kata tentang kerinduan, kecemburuan, kemarahan, kesetiaan, dan kehancuran muncul dalam konteks yang hidup.
Bagi pembelajar bahasa Inggris tingkat lanjut, ini seperti masuk ke ruang bahasa yang lebih dalam—di mana kata tidak hanya berarti, tetapi juga terasa. Karena itu, di kelas sastra atau reading universitas, Wuthering Heights sering dipakai untuk melatih pemahaman teks emosional dan interpretasi karakter.
Tetapi tentu tidak semua orang harus langsung membaca versi aslinya dari awal sampai akhir. Banyak pembaca modern justru masuk ke dunia Wuthering Heights lewat filmnya terlebih dahulu.
Dan itu wajar.
Visual membantu kita memahami hubungan, suasana, dan intensitas emosi yang sulit dibayangkan hanya dari teks klasik.
Setelah melihat gambaran besarnya, membaca novel biasanya terasa lebih ringan—karena ceritanya sudah hidup di kepala kita.
Pada akhirnya, Wuthering Heights bertahan bukan karena statusnya sebagai karya klasik, tetapi karena ia berbicara tentang sesuatu yang sangat mendasar: bagaimana manusia bisa melekat begitu dalam pada orang lain, bagaimana pilihan hidup bisa memisahkan kita dari diri sendiri, dan bagaimana luka yang tidak selesai bisa bertahan sangat lama.
Jadi kalau kamu pernah merasa novel ini terlalu jauh atau terlalu berat, mungkin bukan karena ceritanya tidak untukmu. Mungkin hanya karena pintu masuknya belum ketemu. Dan kadang, pintu itu sederhana saja: menonton kisahnya dulu, merasakan atmosfernya, lalu kembali ke teks ketika sudah siap.
Karena pada akhirnya, di balik bahasa abad ke-19 dan latar Inggris yang jauh, Wuthering Heights tetaplah cerita tentang manusia. Tentang cinta yang tidak menemukan rumahnya. Dan tentang hati yang, sekali terikat terlalu dalam, tidak pernah benar-benar kembali sama.