Materi Ajar Ramah bagi Siswa Disleksia
Di banyak kelas, bisa jadi ada siswa yang tampak cerdas, ingin belajar, tetapi selalu tertinggal dalam membaca. Mereka sering salah mengeja, sulit mengikuti paragraf panjang, atau butuh waktu lebih lama untuk memahami teks. Di banyak kasus, siswa-siswa ini penyandang disleksia.
Dalam situasi seperti itu,
materi ajar yang tepat bukan hanya membantu mereka mengikuti pelajaran, tetapi
juga menjaga rasa percaya diri mereka.
Apa saja sih yang harus diiperhatikan saat membuat materi ajar yang benar-benar ramah bagi siswa disleksia?
1. Mulai dari Pemahaman yang Tepat tentang Disleksia
Sebelum mengubah materi ajar, kita perlu memahami dulu apa sebenarnya disleksia. Disleksia bukan tanda kecerdasan rendah; ini adalah perbedaan cara otak memproses teks dan bunyi.
Dampak praktisnya:
siswa mengalami kesulitan membaca cepat, sering tertukar huruf, lambat memahami teks panjang, dan mudah kelelahan saat menghadapi banyak tulisan.
Contoh situasi:
- Saat membaca kata “through,” siswa mungkin membacanya “though” atau “trouh.”
- Saat membaca teks 1 halaman, siswa disleksia butuh 3–4 kali waktu lebih lama dibanding teman sekelasnya.
Pemahaman ini menjadi titik awal untuk menata materi yang lebih manusiawi dan lebih bisa diakses oleh semua siswa.
2. Dasar-Dasar Materi Ajar yang Inklusif
Setelah memahami tantangan siswa disleksia, langkah berikutnya adalah menata ulang materi dengan prinsip dasar yang membuat teks lebih mudah dicerna.
a. Kejelasan Visual
Materi yang bersih dan mudah dibaca membuat siswa tidak mudah lelah. Gunakan font sederhana seperti Arial atau Calibri, spasi lebih longgar, dan paragraf pendek.
Contoh praktis:
Mengubah lembar kerja yang awalnya penuh teks menjadi:
o paragraf maksimal 3–4 baris,
o poin-poin singkat,
o ilustrasi pendukung.
b. Mengurangi Beban Informasi
Terlalu banyak konsep dalam satu halaman dapat membuat siswa kewalahan. Pecahlah materi menjadi bagian kecil dengan fokus yang jelas.
Contoh praktis:
Sebelumnya:
satu halaman menjelaskan semua bentuk Simple
Present tense.
Versi ramah disleksia:
· Halaman 1: fungsi Simple Present
· Halaman 2: pola kalimat
· Halaman 3: contoh sehari-hari (I go, She eats, They study)
· Halaman 4: latihan sederhana
c. Menggunakan Banyak Saluran Belajar
Bahan belajar sebaiknya bukan hanya teks. Siswa disleksia biasanya terbantu jika informasi disampaikan melalui gambar, audio, video, atau aktivitas fisik.
Contoh praktis:
Guru menyediakan audio untuk setiap teks bacaan, sehingga siswa bisa mengikuti
sambil mendengar.
3. Bagaimana Menata Materi agar Lebih Nyaman Dibaca
Pada tahap ini, kita masuk ke praktik teknis yang bisa langsung dicoba di kelas atau saat menyusun modul.
3.1. Layout yang Mendukung
Tata letak yang tepat bisa membuat perbedaan besar.
Yang bisa dilakukan guru/pengembang:
· Gunakan ukuran huruf 12–14 pt.
· Spasi 1.5 atau 2.0.
· Paragraf pendek.
· Tidak rata kiri–kanan.
Contoh praktis:
Sebuah worksheet awalnya berisi teks seperti ini:
“Students who join the English Club are expected to participate in the weekly meeting where they will learn many new skills…”
Pada versi ramah disleksia dipecah menjadi:
Students who join the English Club meet every
week.
In the meeting, students learn new English skills.
They also join fun activities like storytelling or games.
3.2. Warna dan Kontras
Pemilihan warna juga membantu fokus.
Contoh praktis:
· Gunakan latar krem muda, bukan putih terang.
· Gunakan teks hitam atau biru gelap.
· Hindari kombinasi merah-hijau untuk informasi penting.
3.3. Bahasa yang Lebih Langsung
Kalimat panjang membuat pembaca disleksia cepat lelah.
Contoh praktis:
Kalimat rumit:
“Students are encouraged to deliver their responses in a manner that best
reflects their understanding of the topic.”
Kalimat ramah disleksia:
You can answer in any way that shows your understanding of the topic.
3.4. Media Pendukung
Audio dan gambar bukan “hiasan,” tetapi alat bantu penting.
Contoh praktis:
· Teks bacaan dilengkapi tombol audio “listen to this paragraph.”
· Kosakata baru diberi gambar sederhana.
· Grammar dijelaskan melalui diagram dan bukan paragraf panjang.
4. Cara Mengajar yang Lebih Bersahabat untuk Siswa Disleksia
Materi yang baik perlu didukung cara mengajar yang tepat. Tanpa itu, materi paling ramah pun tidak akan optimal.
4.1. Instruksi Bertahap
Instruksi yang jelas dan bertahap membantu semua siswa, terutama yang mengalami disleksia.
Contoh praktis:
Saat mengajar teks recount:
1. Guru menunjukkan contoh teks singkat.
2. Guru menandai bagian-bagian penting (who, where, when).
3. Siswa mengisi tabel informasi.
4. Siswa baru mencoba membuat 3–4 kalimat sendiri.
4.2. Menggunakan Teknik Multisensori
Belajar tidak harus hanya dari membaca.
Contoh praktis:
· Siswa menempel kartu kata sesuai urutan kalimat.
· Mengikuti lagu untuk mengingat pola grammar (misal irregular verbs).
· Menggambar timeline untuk memahami tenses.
4.3. Beri Waktu Lebih
Waktu tambahan bukan “kemanjaan,” tetapi kebutuhan belajar.
Contoh praktis:
Siswa disleksia diberi 10–15 menit tambahan untuk membaca teks dan menjawab
soal.
4.4. Evaluasi yang Tidak Mengutamakan Kecepatan
Ujian yang sangat bergantung pada kecepatan membaca akan merugikan siswa disleksia.
Contoh praktis:
· Memberi pilihan menjawab secara lisan.
· Menilai pemahaman isi, bukan kesempurnaan ejaan.
4.5. Memberikan Pilihan Tugas
Format tugas yang fleksibel membuat siswa menunjukkan pemahamannya dengan cara yang paling nyaman.
Contoh praktis:
· Alih-alih menulis paragraf, siswa boleh membuat mind map.
· Daripada ringkasan tertulis, siswa boleh mengirim rekaman suara.
5. Penyesuaian Khusus untuk Materi Bahasa Inggris
Bahasa Inggris memiliki banyak aturan pengecualian, sehingga siswa disleksia membutuhkan materi yang lebih bersahabat.
5.1. Fonik dan Bunyi
Ajaran fonik harus eksplisit dan bertahap.
Contoh praktis:
Minimal pair game:
ship–sheep, pool–pull, live–leave.
5.2. Kosakata
Gunakan gambar, konteks nyata, dan jumlah yang tidak terlalu banyak.
Contoh praktis:
Untuk tema “school,” berikan 6 kata dulu: bag, desk, chair, teacher, board,
bell.
5.3. Grammar
Grammar lebih mudah dipahami melalui visual.
Contoh praktis:
Gunakan timeline untuk Past vs Present Perfect.
Gunakan tabel sederhana:
He / She / It → eats
I / You / We / They → eat
5.4. Membaca
Gunakan teks dengan paragraf pendek dan glosarium sederhana.
Contoh praktis:
Teks 1 halaman disederhanakan menjadi 3 paragraf pendek dengan 5 kata sulit
yang dijelaskan di pinggir halaman.
5.5. Penilaian
Gunakan variasi bentuk penilaian.
Contoh praktis:
Siswa boleh memilih antara:
· menjawab 5 pertanyaan pilihan ganda,
· membuat rekaman 1 menit menjelaskan isi teks.
6. Kolaborasi: Guru, Pengembang Materi, dan Sekolah
Perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Guru butuh materi yang mendukung, pengembang materi butuh masukan dari kelas, dan sekolah perlu menyiapkan fasilitas—seperti aplikasi text-to-speech atau ruang membaca yang lebih nyaman.
Contoh praktis:
· Guru memberi catatan: “Siswa membutuhkan audio untuk bacaan.”
· Pengembang menambah fitur audio di modul.
· Sekolah menyiapkan tablet atau laptop agar audio bisa diakses.
Membuat materi ajar ramah disleksia bukan hanya soal memenuhi kebutuhan khusus, tetapi soal menjadikan kelas lebih adil dan lebih manusiawi.
Ketika teks dibuat lebih jelas, instruksi lebih terstruktur, dan media lebih variatif, bukan hanya siswa disleksia yang terbantu—seluruh kelas merasakan manfaatnya.
Pendidikan inklusif adalah investasi yang memperkuat kualitas pembelajaran untuk semua.