Peran Kurikulum dan Silabus dalam Materi Ajar Siswa Zaman Now
Dalam dunia pembelajaran, terutama di pendidikan bahasa Inggris, kurikulum, silabus, dan materi ajar merupakan tiga elemen yang saling berkaitan. Juga satu kesatuan yang saling melengkapi. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, tetapi juga tidak boleh disamakan.
Pemahaman
yang kurang tepat terhadap ketiga elemen ini sering menyebabkan materi ajar
tidak sesuai tujuan, terlalu berat, atau justru tidak bermakna bagi siswa zaman
now. Oleh karena itu, penting bagi calon guru dan pendidik untuk memahami peran
masing-masing elemen sebelum menyusun materi ajar.
Kurikulum memberi arah, silabus memberi peta jalan, dan materi ajar menjadi alat utama dalam proses pembelajaran. Dengan memahami peran masing-masing elemen dan menyusunnya secara selaras, pendidik dapat menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya sesuai tuntutan akademik, tetapi juga relevan dan menarik bagi siswa zaman now.
Kurikulum: Arah dan Tujuan Besar Pembelajaran
Kurikulum merupakan fondasi dan arah utama pembelajaran. Kurikulum berisi tujuan pendidikan, kompetensi inti, dan gambaran kemampuan akhir yang diharapkan dimiliki siswa. Dengan kata lain, kurikulum menjawab pertanyaan untuk apa siswa belajar.
Sebagai contoh, jika kurikulum bahasa Inggris menekankan kemampuan komunikasi dan literasi, maka pembelajaran tidak boleh hanya fokus pada hafalan grammar. Materi ajar harus memberi ruang bagi siswa untuk berlatih berbicara, menulis, dan memahami teks dalam konteks nyata. Jika materi ajar hanya berisi soal pilihan ganda, maka arah kurikulum tidak tercapai secara maksimal.
Kurikulum juga mencerminkan nilai dan tuntutan zaman. Di era digital, banyak kurikulum menuntut siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan literasi digital. Artinya, materi ajar harus mendukung keterampilan tersebut, misalnya dengan melibatkan analisis teks digital, diskusi isu terkini, atau tugas berbasis proyek.
Silabus: Peta Jalan Menuju Tujuan Pembelajaran
Silabus berfungsi sebagai penghubung antara kurikulum dan praktik pembelajaran di kelas. Silabus menjabarkan tujuan kurikulum ke dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional, seperti topik pembelajaran, keterampilan bahasa, urutan materi, dan alokasi waktu.
Sebagai contoh, silabus mungkin menetapkan bahwa pada awal semester siswa belajar introducing oneself, kemudian dilanjutkan dengan describing people dan expressing opinions. Urutan ini penting karena menunjukkan tahapan belajar siswa. Materi ajar harus mengikuti urutan tersebut agar pembelajaran berjalan secara bertahap dan tidak membingungkan.
Silabus juga membantu pendidik menentukan fokus setiap pertemuan. Jika silabus menargetkan keterampilan berbicara, maka materi ajar sebaiknya lebih banyak berisi aktivitas lisan, bukan latihan tertulis semata. Dengan kata lain, silabus memastikan bahwa materi ajar tetap berada “di jalur” pembelajaran.
Materi Ajar: Wujud Nyata Pembelajaran di Kelas
Materi ajar merupakan bentuk paling konkret dari kurikulum dan silabus yang digunakan langsung oleh siswa. Materi ajar dapat berupa buku teks, modul, lembar kerja, video, media digital, atau kombinasi dari semuanya.
Tomlinson menjelaskan bahwa materi ajar mencakup segala sesuatu yang digunakan untuk membantu siswa belajar bahasa. Ia menekankan bahwa materi ajar yang baik harus relevan, menarik, dan mendorong keterlibatan aktif siswa. Misalnya, daripada hanya memberikan daftar kosakata tentang daily activities, guru dapat menyajikannya melalui video singkat tentang rutinitas remaja atau meminta siswa membuat cerita sederhana tentang kegiatan mereka sehari-hari.
Materi ajar juga menjadi titik temu antara tuntutan akademik dan selera siswa zaman now. Siswa saat ini cenderung lebih tertarik pada materi yang visual, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, materi ajar perlu dikemas dengan cara yang lebih kreatif tanpa kehilangan tujuan pembelajaran.
Hal Penting dalam Menyusun Materi Ajar agar Selaras
Dalam menyusun materi ajar, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar selaras dengan kurikulum dan silabus.
Pertama, kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Setiap materi dan aktivitas harus jelas kaitannya dengan capaian pembelajaran. Misalnya, jika tujuannya menulis teks deskriptif, maka materi ajar harus memuat contoh teks, analisis struktur, dan latihan menulis bertahap.
Kedua, relevansi dengan konteks dan selera siswa zaman now. Materi ajar akan lebih efektif jika menggunakan contoh dari dunia siswa, seperti film populer, lagu, media sosial, atau isu yang sedang hangat. Contohnya, pembelajaran expressing opinion bisa dikaitkan dengan review film atau komentar di media sosial.
Ketiga, keseimbangan antara menarik dan bermakna. Materi ajar boleh memanfaatkan video pendek atau platform digital, tetapi harus tetap mendorong siswa berpikir dan berlatih bahasa. Menonton video saja tidak cukup tanpa diskusi atau tugas lanjutan.
Keempat, pemanfaatan teknologi secara bijak. Teknologi dan AI dapat membantu pengembangan materi ajar, misalnya untuk menyediakan contoh atau ide awal. Namun, siswa tetap perlu dilibatkan dalam proses berpikir, mengolah, dan merefleksikan pembelajaran. Seperti diingatkan Tomlinson, teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan jalan pintas.