World Englishes itu apa sih?
Bahasa Inggris saat ini bukan hanya dipakai masyarakat Inggris atau Amerika. Ia sudah menyebar ke seluruh dunia dan berkembang menjadi banyak ragam, sesuai budaya dan kebutuhan lokal.
Fenomena inilah yang disebut World Englishes—istilah untuk menggambarkan keanekaragaman bahasa Inggris di dunia, mulai dari Singlish di Singapura, Indian English di India, sampai Nigerian English di Afrika.
Kajian tentang World Englishes berkembang berkat para ahli bahasa yang menaruh perhatian pada variasi ini:
1. Braj B. Kachru
penggagas terkenal Three Circles of English.
2. Yamuna Kachru
pelopor penelitian World Englishes dan salah satu pendiri International Association of World Englishes.
3. Fan Fang
peneliti generasi baru dari Asia, khususnya Tiongkok, yang menghubungkan World Englishes dan English as a Lingua Franca dengan praktik pengajaran bahasa Inggris. Ia menekankan pentingnya identitas lokal dalam penggunaan English, serta mengajak guru untuk tidak hanya mengajarkan British/American English, melainkan juga membuka ruang bagi English versi Asia.
Kachru’s Three Circles of English
Braj B. Kachru (1985) menjelaskan penyebaran bahasa Inggris melalui tiga lingkaran:
1. Inner Circle
Negara asal bahasa Inggris, seperti Inggris, Amerika, Australia.
2. Outer Circle
Negara bekas koloni Inggris, seperti India, Singapura, Nigeria, Filipina.
3. Expanding Circle
Negara-negara lain yang menggunakan English sebagai bahasa asing, misalnya Indonesia, Jepang, Korea, Cina.
Model ini menunjukkan bahwa English hadir dalam berbagai level dan konteks, bukan hanya satu bentuk standar.

Pengaruh World Englishes dalam Pembelajaran
Fenomena world Englishes ini membawa dampak besar dalam pengajaran bahasa Inggris, seperti:
1. Mendorong siswa menghargai keragaman.
2. Membuat siswa lebih percaya diri dengan aksen lokal.
3. Mengurangi kecemasan dalam berbahasa (language anxiety).
4. Membuka wawasan kritis tentang hubungan bahasa dan identitas.
Bagaimana Guru Menyikapi?
Guru dan calon guru perlu:
1. Bersikap inklusif, mengenalkan berbagai ragam English.
2. Menekankan komunikasi, bukan hanya meniru native speaker.
3. Menggunakan bahan ajar beragam.
4. Menekankan bahwa Indonesian English juga sah dalam komunikasi global selama orang yang diajak bicara bisa menangkap apa yang kita maksudkan dengan baik.
5. Terinspirasi dari tokoh seperti Fan Fang yang menekankan peran identitas lokal siswa dalam pembelajaran English.