Reading without Pressure: Mengapa Prinsip Extensive Reading Sering Gagal Diterapkan di Kampus?
Mengapa kelas extensive reading di kampus terasa membosankan? Temukan penyebabnya dan cara menghidupkan kembali semangat membaca berdasarkan prinsip Bamford & Day.
Membaca itu seharusnya menyenangkan. Itulah semangat utama dari Extensive Reading (ER)—sebuah pendekatan yang dirancang agar pembelajar bahasa Inggris bisa menikmati bacaan tanpa rasa takut pada nilai atau tugas.
Sayangnya, realitas di banyak kampus Indonesia justru sebaliknya. Kelas ER yang seharusnya penuh antusiasme malah berubah jadi kegiatan yang kaku, membosankan, dan jauh dari kata “pleasurable.” Mengapa pendekatan yang harusnya efektif ini bisa kehilangan rohnya saat diterapkan di ruang kelas?
Sebenarnya, Extensive Reading punya sepuluh prinsip utama yang dirumuskan oleh Bamford dan Day—dua tokoh besar dalam dunia literasi bahasa Inggris. Prinsip-prinsip ini menekankan kebebasan memilih bacaan, mendorong membaca banyak buku, dan fokus pada kesenangan, bukan penugasan.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa banyak dosen masih belum memahami secara mendalam bagaimana menerapkan ER. Akibatnya, kelas ER justru terasa seperti kumpulan beban tugas, bukan kegiatan membaca yang menyenangkan. Ketika kesenangan berubah menjadi beban, minat membaca pun ikut redup.
Sebuah artikel jurnal membedah lebih dalam bagaimana para dosen di salah satu universitas di Indonesia memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Extensive Reading di kelas mereka. Melalui wawancara dan kuesioner, penelitian ini mengungkap fakta-fakta menarik tentang ketidaksiapan dosen, tekanan yang dirasakan mahasiswa, dan bagaimana tugas bisa mematikan semangat membaca.
Bacalah artikel ini bila kalian ingin tahu bagaimana cara menghidupkan kembali semangat membaca di kelas ER—karena membaca seharusnya bukan kewajiban, melainkan petualangan.
Untuk membaca artikel lengkapnya, klik disini.