Menata Mental Ketika Artikel Ditolak Jurnal
Penolakan artikel dari jurnal adalah pengalaman yang hampir pasti dialami oleh setiap akademisi, baik mahasiswa yang baru memulai perjalanan riset maupun peneliti berpengalaman.
Email dengan kalimat
pembuka “We regret to inform you…” sering kali mengguncang rasa percaya
diri, memunculkan kecemasan, bahkan menimbulkan keraguan terhadap kemampuan
diri. Namun, di balik rasa tidak nyaman itu, pengalaman penolakan justru
merupakan momentum penting untuk membentuk ketangguhan akademik.
Artikel ini menawarkan cara menata mental agar penolakan tidak mematikan semangat mempublikasikan karya ilmiah di jurnal.
Berikut ini sejumlah langkah yang perlu dilakukan:
1. Validasi Emosi: Langkah Awal Sebuah Keteguhan
Ketika artikel ditolak, rasa kecewa adalah respons yang sangat manusiawi. Mengakui emosi bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan ilmiah.
Berikan ruang bagi dirimu untuk:
· beristirahat sejenak,
· menjauhi naskah untuk sementara,
· atau berbicara dengan kolega.
Validasi emosi membantu pikiran kembali jernih, sehingga keputusan berikutnya lebih bijaksana.
2. Memahami bahwa Penolakan adalah Bagian dari Ekosistem Publikasi
Dalam dunia akademik, penolakan bukan pengecualian, melainkan norma. Jurnal bereputasi memiliki standar tinggi dan tingkat penerimaan yang rendah, sehingga bahkan manuskrip berkualitas pun bisa ditolak.
Mengingat hal ini membuat kita memahami bahwa:
· penolakan tidak identik dengan kualitas rendah,
· penolakan tidak menggambarkan kapasitas intelektual penulis,
· sering kali penolakan hanya soal ketidaksesuaian fokus jurnal.
Dengan kesadaran ini, luka emosional menjadi lebih ringan.
3. Membaca Komentar Reviewer dengan Perspektif Profesional
Bacalah komentar reviewer setelah suasana hati lebih stabil. Dengan kepala dingin, kamu bisa menemukan nilai dari setiap kritik yang diberikan.
Tanyakan pada diri sendiri:
· Apa inti persoalan yang disoroti reviewer?
· Bagian mana yang perlu diperkuat?
· Bagaimana komentar ini dapat berkontribusi terhadap mutu artikel?
Ketika disikapi secara profesional, kritik reviewer berubah dari yang awalnya terasa seperti “serangan” menjadi terasa sebagai “peta perbaikan”.
4. Melepas Interpretasi Pribadi
Reviewer tidak sedang menilai siapa dirimu, tetapi menilai koherensi argumen, ketepatan metodologi, dan relevansi penelitian. Nada komentar reviewer yang terdengar tegas adalah hal biasa dalam penulisan akademik.
Memahami hal ini membantu kita menjaga jarak emosional dan tetap berorientasi pada substansi.
5. Melibatkan Pembimbing dan Rekan Sejawat dalam Proses Refleksi
Kamu tidak harus menghadapi penolakan seorang diri. Diskusikan komentar reviewer dengan pembimbing atau rekan peneliti.
Manfaat diskusi:
· penjelasan yang lebih objektif,
· saran praktis untuk revisi,
· penguatan mental karena kamu didampingi oleh komunitas akademikmu.
Bahkan sering kali, mereka akan mengatakan: “Ini kritik standar. Kamu tinggal perbaiki bagian A, B, C, dan kirim ulang.”
6. Menentukan Langkah Lanjut: Revisi atau Mengalihkan ke Jurnal Lain
Setelah emosimu stabil dan masukan diperiksa, saatnya menetapkan strategi.
A. Revisi dan kirim ulang
Keputusan major revision atau minor revision adalah sinyal positif. Gunakan komentar reviewer sebagai alat untuk memoles artikel—perjelas metodologi, perkuat teori, dan tata ulang argumentasi.
B. Mengirim ke jurnal lain
Jika
penolakan bersifat total, jangan berkecil hati.
Cari jurnal yang:
· lebih sesuai dengan ruang lingkup penelitianmu,
· tingkat penerimaannya lebih realistis,
· atau memiliki fokus yang lebih dekat dengan topikmu.
Sering kali artikel akan “bertemu rumahnya” ketika diarahkan ke jurnal yang tepat.
7. Menjadikan Penolakan sebagai Energi Perbaikan
Setiap masukan reviewer, betapapun keras bunyinya, dapat menjadi panduan berharga. Artikel yang direvisi berdasarkan kritik yang konstruktif biasanya justru menjadi jauh lebih kuat dan matang.
Inilah salah satu sisi paling penting dari perjalanan akademik: penolakan mendorong kualitas.
8. Membangun Ketangguhan Akademik
Publikasi tidak berlangsung dalam satu langkah saja, melainkan proses panjang yang membutuhkan ketekunan, kejelian, dan kesabaran.
Cobalah untuk menanamkan pola pikir:
· “Penolakan adalah bagian dari proses ilmiah.”
· “Setiap kritik mengantar saya ke versi terbaik dari penelitian saya.”
· “Perjalanan ini anjang, dan saya sedang tumbuh.”
Ketangguhan seperti inilah yang membentuk identitas seorang akademisi sejati.
9. Menghargai Proses dan Memberi Apresiasi pada Diri Sendiri
Sebelum memikirkan langkah selanjutnya, sadari bahwa kamu sudah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan semua orang:
menyelesaikan penelitian dan menuliskannya menjadi artikel ilmiah.
Berikan dirimu apresiasi kecil. Lakukan istirahat, kerjakan hobimu, atau sekadar nikmati waktu bebas.
Pemulihan mental adalah bagian dari produktivitas jangka panjang.
Direject jurnal bukanlah akhir dari segalanya.
Dari penolakan, kita belajar untuk membaca lebih kritis, menulis lebih jelas, dan berpikir lebih jernih.
Pada akhirnya, artikel yang matang tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi dari keberanian untuk memperbaiki dan melangkah lagi.
Tetaplah menulis. Tetaplah mencoba.