Memahami Penggunaan “I Think So, Too” dan “I Thought So, Too”
Pernah nggak sih lagi ngobrol sama teman, terus dia bilang sesuatu dan kamu langsung mikir, “nah, aku juga mikir gitu!”? Dalam bahasa Indonesia mungkin kita cuma bilang, “iya, sama!” atau “aku juga kepikiran begitu.”
Nah, dalam bahasa Inggris, respons seperti itu nggak cukup cuma pakai “me too.”
Di sinilah ekspresi seperti “I think so, too” dan “I thought so, too” jadi penting karena keduanya dipakai khusus untuk menyetujui pendapat atau dugaan, bukan sekadar perasaan.
Apa Arti “I Think So, Too”?
Struktur:
- I think so = Saya pikir begitu
- too = juga
“I think so, too” digunakan untuk menyatakan bahwa:
Kita sekarang setuju dengan pendapat atau dugaan seseorang.
Contoh:
- A: This movie is really interesting.
- B: I think so, too.
(Saya juga berpikir begitu)
- A: She is very smart.
- B: I think so, too.
Apa Arti “I Thought So, Too”?
Struktur:
- I thought so = Saya tadi berpikir begitu / Saya sudah menduganya
- too = juga
Makna:
“I thought so, too” digunakan untuk menyatakan bahwa:
Kita sudah memiliki pemikiran yang sama sebelumnya, sebelum orang lain mengatakannya.
Contoh:
- A: He was the one who broke the rule.
- B: I thought so, too.
(Saya juga sudah menduganya)
- A: That answer seemed wrong.
- B: I thought so, too.
Peran “So” dalam Kalimat
Kata “so” di sini berfungsi sebagai pengganti klausa (substitution)
Artinya, kita tidak perlu mengulang kalimat lengkap.
Contoh:
- I think so = I think that is true
- I thought so = I thought that was true
Kesalahan Umum
1. Salah tense
Menggunakan I think so, too untuk situasi masa lalu
2. Lupa “too”
I think so (tidak menunjukkan persetujuan)
3. Tertukar dengan “me too”
Me too → untuk perasaan/aksi, bukan opini
Contoh:
- A: I like coffee.
- B: Me too
- A: This coffee tastes bad.
- B: I think so, too