Big Yellow Taxi
Ketika membaca kata Big Yellow Taxi sebagai judul lagu, otomatis yang terbayang di benak kita adalah taksi kuning dan suasana jalanan kota yang ramai dengan kendaraan lalu-lalang. Judul ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Bisa jadi benak kita akan berasumsi bahwa lagunya akan bercerita tentang suasana kota dan orang-orang yang menikmatinya dari dalam taksi. Santai, sederhana, dan tidak memberi kesan bahwa ada pesan serius di baliknya. Itulah kesan pertama yang biasanya muncul.
Namun, saat lagu ini
benar-benar kita dengarkan, perlahan kita sadar: ini bukan lagu tentang taksi.
Bahkan, nyaris tidak ada cerita tentang kendaraan di dalamnya. Lagu ini justru
berbicara tentang alam yang hilang, pepohonan yang ditebang, dan ruang hijau
yang berubah menjadi beton. Tanpa terasa, kita sedang mendengarkan lagu tentang
konservasi lingkungan.
Sebelum Beranjak Lebih Jauh ke Makna, Kita Singgah Sebentar ke Grammarnya
Dalam bahasa Inggris, ada aturan yang disebut adjective order, yaitu urutan kata sifat yang membuat frasa terdengar alami.
Secara umum, urutannya
adalah:
size → color → noun
Maka:
- big (ukuran),
- yellow (warna),
- taxi (benda).
Kalau kita ubah urutannya menjadi yellow big taxi, maknanya memang masih bisa dipahami, tapi rasanya janggal. Penutur asli hampir pasti tidak akan memilih susunan itu. Jadi, sejak dari judul, lagu ini sudah terasa “akrab” secara bahasa.
Menariknya, tanpa kita sadari, grammar ini juga memengaruhi cara kita membayangkan objek tersebut: sesuatu yang besar dulu, lalu mencolok warnanya, baru kita tahu itu sebuah taksi.
Lalu, Kenapa Isi Lagunya Jauh dari Taksi?
Lirik Big Yellow Taxi justru menyoroti bagaimana alam pelan-pelan menghilang. Surga dipaving, pohon ditebang, dan ruang hijau berubah jadi tempat parkir. Semua gambaran ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern kita.
Taksi dalam judul tidak hadir sebagai tokoh cerita, tetapi sebagai simbol. Ia mewakili kehidupan kota yang praktis dan bergerak cepat—kehidupan yang sering kita nikmati tanpa sempat bertanya apa yang harus dikorbankan untuk mencapainya.
Sekilas, judul dan isi lagu ini memang terasa tidak relevan satu sama lain. Tapi justru di situlah kekuatannya. Lagu ini mengajak kita masuk lewat sesuatu yang familiar, lalu pelan-pelan mengajak kita berpikir lebih jauh.
Big Yellow Taxi yang merupakan karya Joni Mitchell yang sudah didaur ulang oleh beberapa musisi ini mengingatkan kita bahwa di balik kenyamanan hidup modern—jalan yang mulus, kendaraan yang mudah diakses—ada alam yang perlahan tersingkir. Judulnya sederhana, grammarnya rapi, tapi pesannya dalam.
Dan mungkin, setelah mendengarkan lagu ini, kita jadi bertanya pada diri sendiri: hal-hal apa saja yang selama ini kita nikmati, tanpa benar-benar menyadari apa yang sudah hilang?
Berikut ini lirik lengkap dan terjemahan lagunya:
Big Yellow Taxi
(Mobil taksi kuning yang
besar)
They paved paradise and put up a parking lot
Mereka mengubah tempat yang indah
jadi jalan beraspal dan membangun tempat parkir
With a pink hotel, a boutique, and a swingin’ hot spot
Dengan hotel berwana merah muda,
tempat eksklusif, dan tempat nongkrong populer
Don’t it
always seem to go
Tidakkah itu selalu terasa akan hilang
That you don’t
know what you got ’til it’s gone
Bahwa
kau tidak tahu apa yang kau miliki sampai semuanya musnah
They paved
paradise and put up a parking lot
Mereka
mengaspal tempat yang indah dan membangun tempat parkir
Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop
They took all the trees, and put em in a tree museum
Mereka
menebang semua pohon, dan menaruhnya di dalam museum pohon
And they charged the people a dollar and a half to see them
Dan
mereka mematok harga satu dolar setengah untuk bisa melihatnya
No, no, no
Tidak
Don’t it
always seem to go
Tidakkah
itu selalu terasa akan hilang
That you don’t
know what you got ’til it’s gone
Bahwa kau tidak tahu apa yang kau
miliki sampai semuanya musnah
They paved
paradise, and put up a parking lot
Mereka
mengaspal tempat yang bagus, dan membangun tempat parkir
Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop
Hey farmer, farmer, put away your DDT
Hai
petani, petani, simpanlah racun seranggamu itu
I don’t care about spots on my apples,
Aku
tak peduli dengan bopeng di buah apelku
Leave me the birds and the bees
Sisahi
aku burung burung itu dan lebah itu
Please
Kumohon
Don’t it
always seem to go
Tidakkah
selalu terasa akan hilang
That you don’t know what you got ’til it’s gone
Bahwa
kau tak tahu apa yang kau miliki sampai semuanya sudah musnah
They paved
paradise and put up a parking lot
Mereka
mengaspal tempat yang indah dan membangun tempat parkir
Hey now, they paved paradise to put up a parking lot
Hai
kini, mereka mengaspal tempat yang bagus untuk membangun tempat parkir
Why not?
Mengapa
tidak?
Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bop
Listen, late last night, I heard the screen door slam
Dengarkan,
larut kemarin malam, aku mendengarkan kaca pintu terbanting
And a big yellow taxi took my girl away
Dan
mobil taksi kuning yang besar membawa gadisku pergi
Don’t it always seem to go
Tidakkah
selalu terasa akan hilang
That you don’t know what you got ’til it’s gone
Bahwa
kau tak tahu apa yang kau miliki sampai semuanya sudah musnah
They paved
paradise and put up a parking lot
Mereka
mengaspal tempat yang indah dan membangun tempat parkir
Hey now, they paved paradise to put up a parking lot
Hai
kini, mereka mengaspal tempat yang bagus untuk membangun tempat parkir
I don’t wanna give it
Aku
tak ingin menyerahkannya
Why you wanna give it
Mengapa
kau ingin menyerahkannya
Why you wanna giving it all away
Mengapa
kau ingin menyerahkan semuanya
Hey, hey, hey
Now you wanna give it
Kini
kau ingin menyerahkannya
I should wanna give it
Aku
harus ingin menyerahkannya
Now you wanna giving it all away
Kini
kau ingin menyerahkan semuanya