Cara Berdamai dengan Hari-Hari yang Bikin Galau
Pernah nggak, baru bangun tidur sudah merasa capek padahal belum ngapa-ngapain?
Tugas belum selesai. Besok ada ujian. Grup kelas ramai ngomongin tugas yang bahkan belum kita buka. Belum lagi teman sebelah sudah sibuk pamer sertifikat, lomba, atau rencana masa depan.
Sementara kita?
Masih mencari-cari kaus kaki sebelah.
Begitulah. Kadang hidup memang tidak perlu punya masalah besar untuk bikin kita galau.
Tapi mungkin kita bisa belajar sedikit untuk tidak ikut-ikutan memperbesar semuanya.
Pertama, jangan hidup sekaligus untuk hari ini, besok, minggu depan, dan lima tahun lagi.
Hari ini ada tugas? Ya, kerjakan tugasnya.
Jangan sambil membayangkan nasib IPK, pekerjaan, masa depan, sampai kemungkinan jadi pengangguran.
Itu namanya tugas satu halaman berubah menjadi film tiga episode.
Kedua, bedakan masalah dengan pikiran sendiri.
Tugas belum selesai adalah masalah.
“Kalau nilainya jelek gimana? Kalau dosen marah? Kalau nanti semua tugas numpuk? Kalau masa depan saya hancur?”
Nah, itu sudah pikiran yang jalan-jalan terlalu jauh.
Kalau sudah begitu, tarik saja pulang.
Tanya diri sendiri: “Sekarang saya bisa melakukan apa?”
Mungkin jawabannya cuma membaca dua halaman. Ya sudah. Dua halaman dulu.
Ketiga, sesekali jangan jadi manusia produktif.
Boleh kok rebahan tanpa merasa berdosa.
Boleh nonton. Main game. Ngobrol. Jalan-jalan. Dengerin musik sambil bengong menatap langit-langit kamar.
Tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu.
Kita ini manusia, bukan printer.
Keempat, jangan terlalu rajin membandingkan hidup.
Di media sosial, hidup orang lain memang kelihatannya keren semua.
Ada yang menang lomba. Ada yang kuliah ke luar negeri. Ada yang sudah punya bisnis. Ada yang tiap minggu foto di tempat bagus. Sementara kita baru berhasil bangun sebelum siang.
Ya nggak apa-apa.
Kita tidak pernah tahu cerita lengkap di balik foto orang lain. Jadi, daripada sibuk menghitung langkah orang lain, lebih baik lihat kaki sendiri.
Sudah sampai mana?
Kalau belum jauh, ya jalan lagi.
Pelan-pelan juga jalan.
Dan terakhir, kalau suatu hari semuanya terasa berantakan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup kita memang berantakan.
Mungkin cuma harinya yang sedang jelek.
Besok belum tentu.
Kalau besok masih jelek juga, ya lusa kita coba lagi.
Namanya juga hidup.
Kadang lancar, kadang nyangkut.
Yang penting jangan ikut-ikutan nyangkut.
Kita tidak harus membereskan seluruh hidup hari ini.
Fokus ke satu hari saja dulu.