Apa Sih Thrifting Itu?

Thrifting. Kata ini akhir-akhir ini semakin populer, terutama bagi kalangan muda yang merupakan para pecinta fashion. Thrifting adalah kegiatan membeli barang bekas, terutama pakaian, dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan barang baru. Aktivitas ini sering dilakukan di toko barang bekas atau pasar loak, yang menyediakan berbagai produk dengan kualitas masih layak pakai.
Thrifting tidak hanya menawarkan barang dengan harga terjangkau, tetapi juga memberi kesempatan untuk menemukan barang-barang unik dan mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Asal Kata “Thrifting”
Kata “thrifting” berasal dari kata “thrift” yang berarti hemat atau pengelolaan sumber daya secara bijaksana.
Dalam konteks thrifting, yang diacu adalah kegiatan membeli barang bekas dengan cara yang hemat, memaksimalkan penggunaan barang yang masih layak pakai, dan mendukung konsumsi yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa sinonim atau istilah yang terkait dengan thrifting dalam bahasa Inggris antara lain:
1. Second-hand shopping – Belanja barang bekas.
2. Vintage shopping – Membeli barang-barang vintage, seringkali barang lama yang memiliki nilai sejarah atau estetika.
3. Pre-loved shopping – Membeli barang yang sudah dimiliki orang lain sebelumnya.
4. Resale shopping – Membeli barang bekas yang dijual kembali.
5. Consignment shopping – Membeli barang bekas yang dijual oleh pemilik sebelumnya melalui pihak ketiga (misalnya toko konsinyasi).
Mengapa Thrifting Populer?
1. Harga Terjangkau
Barang bekas umumnya lebih murah dibandingkan dengan barang baru, membuat thrifting menjadi pilihan hemat.
2. Keunikan Barang
Thrifting memberi kesempatan untuk menemukan pakaian atau barang unik yang tidak mudah ditemukan di toko biasa.
3. Kesadaran Lingkungan
Banyak orang memilih thrifting karena dapat mengurangi dampak buruk dari industri fashion terhadap lingkungan.
4. Kegiatan yang Seru
Proses mencari barang langka atau vintage bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi sebagian orang.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai dalam Thrifting
Meskipun thrifting menawarkan banyak manfaat, ada beberapa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama karena barang yang dijual biasanya barang bekas.
Berikut adalah beberapa risiko yang perlu diperhatikan:
1. Paparan Kuman dan Bakteri
Barang bekas bisa terpapar kuman, bakteri, atau virus dari pemilik sebelumnya.
Cara menghindari:
Cuci atau sanitasi barang bekas sebelum digunakan.
2. Alergi atau Iritasi Kulit
Beberapa barang bekas, terutama pakaian, dapat mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi.
Cara menghindari:
Cuci pakaian atau barang bekas dengan baik untuk menghilangkan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan iritasi.
3. Kontaminasi Jamur atau Kelembaban
Barang bekas bisa terkontaminasi jamur atau kelembaban, yang berisiko menyebabkan masalah pernapasan atau iritasi kulit.
Cara menghindari:
Periksa barang dengan teliti dan simpan di tempat yang kering setelah dibeli.
4. Risiko Menghirup Debu atau Partikel Terkontaminasi
Beberapa barang bekas dapat mengandung debu atau partikel yang bisa menyebabkan iritasi pernapasan.
Cara menghindari:
Gunakan masker saat berbelanja dan bersihkan barang setelah dibeli.
5. Paparan Pestisida atau Racun
Beberapa barang bekas mungkin pernah terpapar bahan kimia atau pestisida.
Cara menghindari:
Cuci barang bekas dengan baik untuk menghilangkan bahan kimia yang berbahaya.
6. Risiko Penyakit Menular
Barang bekas dari sumber yang tidak jelas bisa membawa penyakit menular.
Cara menghindari:
Periksa kondisi barang dengan teliti sebelum membeli dan bersihkan dengan antiseptik.
7. Paparan Bahan Berbahaya dalam Produk Lama
Barang bekas seperti mainan atau peralatan rumah tangga mungkin mengandung bahan berbahaya seperti timbal.
Cara menghindari:
Hindari membeli barang yang sudah sangat tua atau tidak memenuhi standar keselamatan.
Dengan memeriksa barang secara teliti, mencuci barang sebelum digunakan, dan mengikuti langkah pencegahan lainnya, kita dapat menikmati thrifting dengan aman dan nyaman.