Apa Itu FOMO?

FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu perasaan cemas atau takut tertinggal ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang menarik atau memiliki pengalaman yang lebih baik.
Biasanya FOMO muncul ketika kita melihat teman-teman atau orang lain di media sosial yang tampaknya lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih aktif. Hal ini dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya tidak lengkap, atau bahwa mereka melewatkan sesuatu yang penting. Rasa takut ketinggalan ini bisa mempengaruhi suasana hati, bahkan mengganggu konsentrasi saat belajar atau aktivitas lainnya.
Sejarah Munculnya Istilah FOMO
Istilah FOMO pertama kali digunakan pada tahun 2004 oleh seorang pengusaha asal AS, Patrick J. McGinnis, dalam sebuah artikel di The Harbus, koran mahasiswa Harvard Business School. McGinnis mendefinisikan FOMO sebagai perasaan cemas karena orang lain mungkin memiliki pengalaman yang lebih baik daripada kita. Namun, fenomena ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu. Perkembangan teknologi dan media sosial pada tahun 2010-an semakin membuat FOMO menjadi istilah yang populer di kalangan pengguna internet, terutama remaja dan dewasa muda.
Kapan FOMO Mulai Muncul?
FOMO mulai menjadi bagian dari bahasa sehari-hari sejak media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter berkembang pesat pada dekade 2010-an. Platform ini memungkinkan pengguna untuk melihat aktivitas teman-temannya secara real-time, yang memperkuat perasaan “takut tertinggal” dari pengalaman sosial, perjalanan, atau acara menarik.
Seiring waktu, FOMO menjadi masalah yang lebih besar, terutama dengan adanya fitur-fitur seperti Stories di Instagram dan Status di WhatsApp yang memungkinkan penggunanya berbagi momen yang mereka alami dengan sangat mudah. Fitur ini membuat orang merasa harus selalu memantau apa yang sedang terjadi agar tidak ketinggalan informasi atau momen penting.
Contoh Penggunaan Kata FOMO dalam kalimat:
1. “Kadang aku buka Instagram karena FOMO, biar tau apa yang teman-temanku sedang lakukan.”
2. “Meski tiket konser itu mahal sekali, tetap saja ludes terjual. Sepertinya banyak yang FOMO khawatir nggak bisa nonton seperti teman-temannya.”
3. “Setelah liat teman-teman posting rencana liburan ke Bali, aku langsung FOMO karena liburan semester ini aku cuma di rumah aja.”
4. “Kemarin FOMO abis, soalnya semua teman nonton film baru di bioskop, dan aku sampai sekarang belum sempat nonton.”
5. Saking FOMOnya, adekku kemana-mana pegang hp supaya bisa buka grup fandom idola K-Popnya dan nggak ketinggalan info tentang idolanya itu.
6. “Sejak ada tempat gym baru dekat kantor, semua pada rajin ikut gym, aku jadi FOMO pengen ikutan biar nggak ketinggalan.”
7. “Aku FOMO banget kalau nggak buka Instagram sehari aja, takut ketinggalan info seru.”
8. “Sebenernya sih aq nggak terlalu butuh tumbler baru, tapi aku FOMO soalnya semua temanku punya tumbler yang awet dinginnya itu.”
Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana FOMO sering muncul dalam kehidupan sehari-hari remaja ketika mereka merasa tertinggal dari tren atau aktivitas yang sedang populer.
FOMO adalah perasaan yang wajar, tapi penting juga untuk bisa mengelola dan tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang terlihat di media sosial. Apa yang terlihat indah di media sosial itu belum tentu benar-benar indah dalam faktanya.
FOMO bisa berdampak pada kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, serta fokus pada aktivitas yang bisa memberikan kebahagiaan dan kepuasan secara pribadi, bukan hanya sekedar ikut tren.
Selain itu kita perlu belajar bersyukur dengan apa yang sudah kita punyai, karena bisa jadi yang kita punyai itu ternyata sesuatu yang bikin orang lain FOMO.