SOLO vs Bloom: Mana yang Lebih Cocok untuk Pembelajaran?
Di dunia pendidikan, dua taksonomi paling sering digunakan untuk
memahami proses belajar siswa adalah Taxonomy Bloom dan Taksonomy SOLO.
Keduanya punya tujuan yang sama—membantu guru merancang pembelajaran yang bermakna. Tapi, cara kerjanya cukup berbeda
Taksonomi Bloom, yang dikembangkan oleh Benjamin Bloom pada 1956 dan direvisi pada 2001, berfokus pada proses berpikir. Mulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
Sementara itu, Taksonomi SOLO, yang diperkenalkan oleh John Biggs dan Kevin Collis pada 1982, melihat kedalaman pemahaman siswa—dari tidak tahu, tahu satu hal, beberapa hal, mengaitkan, sampai bisa menggeneralisasi.
Lalu, apa saja persamaan dan perbedaannya?
Persamaan:
· Keduanya memiliki struktur bertingkat dari sederhana ke kompleks.
· Sama-sama mendorong berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills).
· Berguna dalam perencanaan pembelajaran dan penilaian.
Perbedaan:
· Bloom fokus pada jenis proses berpikir, SOLO fokus pada kualitas hasil belajar.
· Bloom cocok untuk merumuskan tujuan belajar; SOLO cocok untuk menilai kualitas jawaban siswa.
· Bloom punya 6 level, SOLO punya 5 level.
Contoh implementasi:
Saat mengajar menulis esai Bahasa Inggris, guru bisa menggunakan Bloom untuk merancang kegiatan: menghafal struktur esai (mengingat), memahami fungsi tiap bagian, lalu menulis sendiri (mencipta).
Setelah siswa selesai, guru bisa menggunakan SOLO untuk menilai: apakah esai mereka hanya menyebutkan poin, mengaitkan gagasan, atau bahkan mampu menyampaikan ide yang orisinal dan mendalam.
Taksonomi Bloom dan SOLO sebenarnya saling melengkapi.
Gunakan Bloom untuk tahu arah pembelajaran, gunakan SOLO untuk mengukur sejauh mana siswa benar-benar paham.
Kombinasi keduanya dapat menghasilkan proses belajar yang lebih utuh dan bermakna.