Sejarah Kurikulum Indonesia

Kurikulum Indonesia mempunyai sejarah panjang. Sampai tahun 2024 ini, kurikulum Indonesia telah 11 kali berubah. Setiap kurikulum mempunyai fokus, ciri khas, kelebihan, dan kekurangan masing-masing.
Berikut ini adalah ringkasan tentang semua kurikulum yang berlaku di Indonesia sejak Indonesia merdeka.
Kurikulum
|
Ciri Khas |
Kelebihan |
Kekurangan |
|
|||
Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran 1947) |
· Kurikulum pertama setelah kemerdekaan. · Menanamkan semangat nasionalisme. · Materi pelajaran bersifat integral.
|
· Membangkitkan rasa nasionalisme pada siswa. · Mendorong pendidikan berbasis budaya lokal. |
· Struktur kurikulum sederhana dan belum terstandarisasi. · Terbatasnya sumber daya pendukung. |
Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai) |
· Materi diuraikan lebih rinci. · Guru lebih bebas menyesuaikan materi dengan konteks lokal. · Fokus pada pendidikan moral.
|
· Memungkinkan adaptasi terhadap kebutuhan lokal. · Mendorong pendidikan karakter yang kuat. |
· Kurang terstruktur untuk penerapan luas. · Tergantung pada kemampuan dan kreativitas guru. |
Kurikulum 1964 |
· Menekankan pengembangan aspek moral, kecerdasan, artistik, keterampilan, dan jasmani. · Fokus pada Pancawardhana. |
· Mendorong keseimbangan antara akademik dan keterampilan non-akademik. · Pendidikan holistik.
|
· Terlalu banyak aspek yang harus dicapai dalam waktu terbatas. · Implementasi sulit dilakukan merata. |
Kurikulum 1968 |
· Fokus pada pembentukan manusia Pancasila. · Pendidikan dasar sebagai pondasi pembangunan negara. |
· Memperkuat karakter nasionalisme. · Kurikulum lebih terstruktur. |
· Materi cenderung dogmatis dan kurang fleksibel. · Kurang memperhatikan kebutuhan siswa.
|
Kurikulum 1975 |
· Pendekatan tujuan instruksional yang sistematis. · Menyediakan rencana pengajaran (GBPP = Garis-Garis Besar Program Pengajaran). |
· Struktur kurikulum yang jelas dan terencana. · Memberikan panduan rinci bagi guru. |
· Terlalu kaku dan membatasi kreativitas guru. · Fokus pada kognitif, kurang menekankan keterampilan.
|
Kurikulum 1984 (CBSA) |
· Mendorong cara belajar aktif (CBSA = Cara Belajar Siswa Aktif). · Siswa terlibat langsung dalam pembelajaran melalui diskusi dan eksperimen.
|
· Memotivasi siswa untuk lebih aktif. · Proses belajar menjadi lebih interaktif dan menarik. |
· Guru sering kesulitan menerapkan CBSA. · Membutuhkan fasilitas yang memadai, yang tidak selalu ada. |
Kurikulum 1994 |
· Menggabungkan konsep lama dan baru dengan sistem semester. · Materi dianggap cukup padat dan membebani siswa. |
· Menyediakan variasi metode pengajaran. · Memberikan beberapa pilihan untuk adaptasi lokal. |
· Terlalu banyak materi yang harus dikuasai siswa. · Beban kurikulum tinggi, membebani siswa dan guru.
|
Kurikulum 2004 (KBK = Kurikulum Berbasis Kompetensi) |
· Pendekatan berbasis kompetensi. · Fokus pada pencapaian hasil belajar tertentu dan kemampuan individu. |
· Mengarahkan siswa pada pencapaian kompetensi khusus. · Fleksibel dalam metode pembelajaran.
|
· Standar evaluasi kompetensi kurang jelas. · Guru membutuhkan pelatihan untuk menerapkan KBK.
|
Kurikulum 2006 (KTSP = Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) |
· Otonomi bagi sekolah untuk menyusun kurikulum lokal. · Menekankan kompetensi dasar. |
· Sekolah dapat menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan lokal. · Mendorong kreativitas guru dan siswa.
|
· Tidak semua sekolah memiliki sumber daya yang cukup untuk KTSP. · Perbedaan mutu antar sekolah. |
Kurikulum 2013 (K13) |
· Mengintegrasikan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. · Pendekatan tematik dan pembelajaran berbasis proyek. |
· Menekankan pendidikan karakter. · Mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
|
· Banyaknya administrasi untuk guru. · Sulit diterapkan di sekolah dengan keterbatasan fasilitas. |
Kurikulum Merdeka (2022) |
· Fleksibilitas besar bagi sekolah. · Mengedepankan pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan literasi, numerasi, serta karakter. |
· Menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individu siswa. · Mendukung pengembangan karakter dan kreativitas.
|
· Membutuhkan kesiapan sumber daya dan pelatihan guru. · Perbedaan implementasi antar sekolah. |
Tabel di atas menunjukkan perubahan kurikulum di Indonesia dan dampaknya pada sistem pendidikan di tiap periode. Setiap kurikulum yang telah dilaksanakan memiliki kelebihan dan kekurangan yang dipengaruhi oleh konteks sosial-politik, teknologi, dan sumber daya yang tersedia pada masanya. Smoga ringkasan tentang kurikulum ini dapat memberi wawasan yang komprehensif tentang kurikulum Indonesia.