Renungan Awal Semester
Akhir semester tuh bukan cuma soal tugas kelar. Jujur aja, capek mentalnya sering masih nempel. Kepala penuh dengan kata “harusnya”, hati penuh esmosi banding-bandingin diri sama orang lain.
Terus tiba-tiba semester baru datang, dan kamu dituntut siap lagi. Padahal dalam hati masih pengen rebahan panjang.
Kalau kamu ngerasa gitu, itu bukan karena kamu lemah. Secara psikologis, kamu lagi di fase transisi mental: otak belum selesai nutup bab lama, tapi sudah dipaksa buka bab baru.
Nah, di sinilah perenungan itu penting. Bukan buat galau, tapi biar kamu masuk semester baru dengan kepala lebih waras.
1. Capek Itu Sinyal, Bukan Aib
Banyak mahasiswa ngerasa harus kuat terus. Padahal capek itu sinyal tubuh dan pikiran minta diatur ulang.
Cara praktisnya:
- Ambil 10 menit
- Jawab 3 pertanyaan ini (boleh di notes HP):
1. Apa yang paling bikin aku capek semester lalu?
2. Capek fisik, capek pikiran, atau capek ekspektasi?
3. Bagian mana yang sebenarnya bisa dikurangin?
Tujuannya bukan nyalahin diri, tapi mengenali sumber capek. Kalau kamu tahu penyebabnya, kamu bisa mencegahnya kejadian lagi dengan cara yang lebih realistis.
2. Pisahkan Nilai dari Harga Diri
Nilai jelek sering bikin overthinking: “Aku nggak pinter”, “Aku salah jurusan”. Ini reaksi psikologis yang wajar, tapi nggak sehat kalau dibiarkan.
Latihan simpel (tapi ngaruh):
- Tulis nilai yang bikin kamu kepikiran
- Di bawahnya, tulis 3 faktor yang mungkin memengaruhi:
- Waktu belajar
- Metode belajar
- Kondisi mental/fisik
- Tutup dengan kalimat ini:
“Nilai ini menjelaskan prosesku, bukan siapa aku.”
Ini latihan cognitive reframing dimana kita melatih otak biar nggak langsung ngegas ke self-blaming.
3. Tutup Semester Lama Secara Sadar
Kalau kamu langsung lanjut tanpa nutup, emosi semester lalu bakal ikut nyeret ke semester baru.
Ritual penutupan (5 menit aja):
- Tulis 1 hal yang paling bikin kamu kecewa
- Tulis 1 hal kecil yang berhasil kamu lakuin (sekecil apa pun)
- Tulis 1 kebiasaan yang pengen kamu stop
Terus baca pelan-pelan:
“Semester ini selesai. Aku belajar, bukan cuma dari materi, tapi dari hidup.”
Ini bantu otak kamu ngerasa, “Oke, bab ini udah ditutup.”
4. Ganti Target Besar dengan Aturan Main yang Jelas
Masalahnya bukan kamu kurang niat, tapi targetmu terlalu gede dan abstrak.
Bikin target yang bisa dipraktikkan
|
Target Abstrak |
Target Praktis |
|
“Aku mau rajin”
|
“Aku hadir minimal 80% dan duduk di depan tiap Senin”
|
|
“Aku nggak mau nunda” |
“Begitu tugas keluar, aku buka dan kerjain 15 menit di hari yang sama”
|
Ini namanya behavior-based goal, lebih ramah buat otak dan lebih mungkin kejadian.
5. Jangan Nunggu Mood, Mulai dari Gerakan Kecil
Motivasi itu sering muncul setelah kamu mulai, bukan sebelum
Aturan 5 menit:
- Set timer 5 menit
- Kerjain apa pun yang berkaitan sama kuliah
- Setelah 5 menit, kamu boleh berhenti
Ajaibnya, sering kali kamu malah lanjut sendiri.
Secara psikologis, ini ngurangin resistensi otak yang takut sama tugas besar.
6. Berhenti Bandingin Diri, Fokus ke Jalur Sendiri
Bandingin diri terus-terusan bikin mental capek tanpa hasil.
Latihan grounding sederhana, misalnya setiap minggu, jawab:
- Apa satu hal yang lebih baik dari minggu lalu?
- Apa satu hal yang masih perlu dibenerin?
Cuma bandingin kamu sekarang vs kamu kemarin, bukan vs orang lain.
Maka, masuki semester baru dengan versi diri yang lebih waras.
Kamu
nggak harus masuk semester baru dengan semangat membara.
Cukup masuk dengan:
- kepala sedikit lebih tenang
- target yang masuk akal
- dan niat buat lebih ramah ke diri sendiri
Pelan-pelan itu bukan mundur.
Pelan-pelan itu strategi biar kamu bisa sampai.
Smoga hari-hari kuliahmu di semester ini menyenangkan ya …