Kesehatan Mental Untuk Keberhasilan Studi
Kita sering mengukur keberhasilan mahasiswa dari hal-hal yang tampak: nilai di KHS, IPK di akhir semester, berapa lama studi ditempuh, atau seberapa cepat skripsi, tesis, dan disertasi selesai.
Kita jarang bertanya tentang hal-hal yang tidak tercatat secara administratif—kecemasan menjelang presentasi, kelelahan menghadapi revisi yang tak kunjung usai, atau rasa takut setiap kali membuka email dari dosen pembimbing.
Padahal, justru di ruang-ruang sunyi itulah keberhasilan studi sering kali ditentukan.
Di kelas, sering kita temui mahasiswa yang rajin masuk kelas, duduk di barisan depan, dan tidak pernah absen mengumpulkan tugas. Dari luar, mereka tampak “aman”.
Namun, di balik layar, mereka hidup dari satu deadline ke deadline berikutnya, dengan pikiran yang tak pernah benar-benar beristirahat. Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena terlalu lama menahan diri untuk terlihat kuat.
Di jenjang S1, kelelahan mental sering berwujud kebingungan yang samar. Mahasiswa baru belajar membaca silabus, menyesuaikan diri dengan gaya dosen yang berbeda-beda, dan menerima kenyataan bahwa nilai B atau C bukan akhir dunia, meskipun rasanya begitu bagi mereka.
Ada yang mulai ragu pada dirinya sendiri hanya karena satu mata kuliah terasa berat.
Di titik ini, kesehatan mental bekerja diam-diam: ia menentukan apakah seorang mahasiswa melihat kesulitan sebagai proses belajar, atau sebagai bukti bahwa dirinya “tidak cocok” di dunia akademik.
Naik ke S2, tekanannya berubah bentuk. Mahasiswa sudah lebih matang, tetapi ekspektasi semakin tinggi. “Kamu kan mahasiswa S2,” kalimat ini terdengar seperti pujian, tetapi sering terasa seperti beban. Banyak yang enggan bertanya di kelas karena takut dianggap tidak siap. Banyak pula yang kelelahan membagi energi antara kuliah, pekerjaan, keluarga, dan tuntutan untuk lulus tepat waktu. Mereka yang mampu menjaga kesehatan mentalnya biasanya bukan yang paling sempurna, tetapi yang tahu kapan harus berhenti sejenak dan berkata, “Saya butuh waktu untuk memahami ini.”
Di jenjang S3, kesehatan mental sering menjadi isu yang paling sunyi. Mahasiswa doktoral terbiasa bekerja sendiri—membaca, menulis, merevisi, lalu merevisi lagi. Revisi dari pembimbing bisa terasa seperti koreksi akademik biasa, atau berubah menjadi beban emosional jika tidak dikelola dengan sehat. Banyak yang tidak menyerah karena tidak pintar, tetapi karena terlalu lama merasa sendirian dalam proses berpikirnya sendiri.
Maka, belajar bukan hanya proses kognitif, tetapi juga proses emosional.
Pikiran yang cemas sulit fokus. Emosi yang tidak diolah membuat kegagalan terasa sebagai akhir segalanya.
Sebaliknya, mahasiswa yang sehat mentalnya mampu melihat nilai jelek, komentar dosen, atau revisi panjang sebagai bagian dari perjalanan, dan bukan sebagai penilaian atas harga dirinya.
Sangat bagus jika mahasiswa mampu berkata dengan jujur, “Saya capek, tapi saya masih ingin melanjutkan.”
Kalimat ini sederhana, tetapi menunjukkan ketahanan psikologis yang kuat. Mereka tidak menafikan lelahnya, tetapi juga tidak membiarkan lelah itu mengambil alih seluruh makna belajar.
Mungkin sudah saatnya kita, sebagai bagian dari dunia kampus, berhenti melihat kesehatan mental sebagai isu tambahan atau sekadar urusan pribadi mahasiswa. Ia adalah fondasi dari keberhasilan akademik itu sendiri.
Kelas yang menantang, dosen yang kritis, dan standar akademik yang tinggi akan bermakna jika mahasiswa memiliki ruang aman untuk bertumbuh.
Bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai manusia.
Pada akhirnya, keberhasilan studi bukan hanya tentang siapa yang lulus paling cepat atau paling tinggi nilainya. Ia tentang siapa yang mampu bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri di tengah tumpukan tugas, revisi, dan deadline. Dan di sanalah kesehatan mental bekerja. Diam-diam, tetapi menentukan segalanya.