Post-Method dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Post-method adalah sebuah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang muncul setelah era dominasi metode-metode klasik seperti Grammar Translation Method, Direct Method, Audio-Lingual Method, hingga Communicative Language Teaching.
Post-method bukanlah sebuah metode baru, melainkan cara pandang yang menekankan fleksibilitas, konteks, dan pemberdayaan.
Jika metode-metode tersebut cenderung menawarkan “paket siap pakai,” post-method justru menolak keterikatan pada satu metode tertentu. Post-method menekankan fleksibilitas, kreativitas, serta kesadaran konteks sosial dan kultural.
Kapan Munculnya?
Gagasan post-method berkembang pada 1990-an, terutama melalui karya B. Kumaravadivelu. Ia menilai bahwa tidak ada metode tunggal yang cocok untuk semua situasi. Sebelumnya, abad ke-20 dikenal sebagai the age of methods di mana setiap metode baru dipromosikan sebagai solusi universal. Namun kenyataan di kelas menunjukkan bahwa guru perlu menyesuaikan teknik dengan konteks nyata. Dari sinilah lahir apa yang disebut post-method condition.
Kumaravadivelu (2003) merumuskan tiga prinsip utama post-method:
1. Particularity
pengajaran harus sesuai dengan kebutuhan lokal (budaya, tujuan belajar, kondisi siswa).
2. Practicality
guru mengembangkan pengetahuan praktis dari pengalaman, bukan sekadar menerapkan teori.
3. Possibility
pengajaran bahasa membuka peluang pemberdayaan siswa agar sadar akan potensi diri dan konteks sosial mereka.
Konsep ini selaras dengan semboyan “Think globally, act locally.”
Artinya, guru bahasa Inggris perlu memahami perkembangan global dalam pengajaran bahasa (misalnya tren communicative competence atau digital learning), tetapi penerapannya tetap harus menyesuaikan dengan konteks lokal, budaya, dan kebutuhan siswa di kelas masing-masing.
Dengan prinsip particularity, practicality, possibility serta semboyan “think globally, act locally,” guru diharapkan mampu merancang pembelajaran bahasa Inggris yang lebih relevan, inovatif, dan bermakna.
Praktik di Lapangan
Dalam praktiknya, post-method memungkinkan guru untuk bebas mengombinasikan teknik dan strategi.
Misalnya:
- Menggabungkan role play (dari Communicative Language Teaching) dengan latihan pola kalimat (dari Audio-Lingual Method).
- Menggunakan media global seperti YouTube atau podcast, tetapi kontennya dipilih yang relevan dengan budaya dan minat siswa di Indonesia.
- Memberikan proyek berbasis kehidupan sehari-hari, misalnya menulis caption Instagram dalam bahasa Inggris atau membuat vlog singkat.
Kelebihan Post-Method
1. Fleksibilitas tinggi
guru bisa memilih teknik sesuai kebutuhan siswa.
2. Kontekstual
materi pembelajaran disesuaikan dengan budaya dan kehidupan siswa.
3. Memberdayakan guru
guru tidak sekadar pelaksana, tetapi desainer pembelajaran.
4. Menguatkan siswa
pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna bagi kehidupan nyata siswa.
5. Selaras dengan globalisasi
mampu mengadopsi tren global sambil tetap berpijak pada konteks lokal (think globally, act locally).
Kelemahan Post-Method
1. Kurang panduan praktis
guru pemula bisa bingung karena tidak ada “paket metode” yang jelas.
2. Tergantung kreativitas guru
jika guru tidak inovatif, pembelajaran bisa berjalan tanpa arah.
3. Evaluasi sulit
karena tekniknya bervariasi, sulit menetapkan standar penilaian yang seragam.
4. Berpotensi terlalu eclectic
terlalu banyak menggabungkan teknik tanpa prinsip bisa membuat pembelajaran tidak fokus.
Implementasi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, implementasi post-method dapat berupa:
- Menggunakan materi global, tetapi dikaitkan dengan realitas lokal. Misalnya, membahas isu lingkungan global melalui contoh kasus di sungai atau hutan lokal.
- Memadukan teknologi dengan budaya lokal, seperti membuat video belajar bahasa Inggris dengan latar budaya Indonesia.
- Memberi ruang otonomi pada siswa untuk memilih cara belajar: presentasi, proyek kreatif, atau diskusi.
Meski memiliki kelemahan terutama bagi guru pemula, post-method membuka peluang besar untuk menjadikan pengajaran bahasa Inggris lebih hidup, sesuai dengan kebutuhan siswa dan tantangan zaman.