Pemakaian AI dalam Pengembangan Materi ESP: Perlukah?
Di era serba digital kayak sekarang, siapa sih yang nggak tergoda pakai AI? Apalagi buat mahasiswa yang sedang kuliah di jurusan pendidikan Bahasa Inggris dan sedang memprogram mata kuliah ESP, menyusun silabus dan materi ajar English for Specific Purposes (ESP) bukan perkara gampang.
Tantangannya banyak, mulai dari harus sesuai dengan hasil analisis kebutuhan, sampai menyusun kegiatan belajar yang menarik dan tepat sasaran.
Nah, di tengah tekanan itu, muncul satu pertanyaan penting: Apakah mahasiswa benar-benar perlu bantuan AI buat bikin materi ESP? Atau mereka sebenarnya bisa, cuma belum percaya diri aja?
AI: Antara Teman Inspirasi atau Jalan Pintas?
Sekarang ini, banyak yang beranggapan bahwa AI—terutama chatbot seperti ChatGPT dan Gemini—bisa banget bantu mahasiswa menyusun worksheet ESP.
Alasannya masuk akal, antara lain: AI cepat, praktis, bisa kasih inspirasi saat kita buntu. Tapi, ada juga yang skeptis. Mereka bilang AI bisa membunuh kreativitas, bikin mahasiswa terlalu bergantung, bahkan bikin tugas rawan plagiat.
Jadi, muncul dua kubu: yang pro-AI dan yang lebih hati-hati.
Saking cepat dan pintarnya AI menjawab, kadang mahasiswa jadi tergoda buat langsung salin-tempel tanpa mikir dua kali. Tapi... apa iya mahasiswa jadi nggak bisa mikir sendiri?
Benarkah Mahasiswa Nggak Bisa Bikin Materi ESP Tanpa Bantuan AI?
Pertanyaan ini jadi sangat relevan, apalagi kalau kita lihat fenomena di kelas-kelas perkuliahan saat ini. Banyak dosen curiga kok hasil tugas mahasiswa terasa “terlalu rapi”, “terlalu sempurna”, atau bahkan “terlalu AI banget.”
Tapi, jangan buru-buru menilai. Ternyata nggak semua mahasiswa bergantung sepenuhnya ke AI.
Sebuah riset yang dilakukan oleh tim dari Universitas Negeri Surabaya mengungkap fakta-fakta menarik soal ini. Dalam penelitian yang melibatkan 40 mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah ESP Material Development, ditemukan bahwa meskipun banyak yang menggunakan AI saat buntu ide, mayoritas tetap memulai dari pemikiran sendiri. Mereka pakai AI hanya sebagai “teman brainstorming”, bukan “pembuat utama”.
Penasaran dengan Hasil Penelitiannya?
Kalau kamu ingin tahu lebih lanjut:
a) Seberapa banyak mahasiswa yang benar-benar menggunakan AI?
b) AI apa aja yang paling sering dipakai?
c) Apa alasan mereka merasa nyaman—atau justru nggak nyaman—dengan AI?
d) Apakah AI benar-benar bikin mereka jadi tidak kreatif?
Jawaban lengkapnya bisa kamu temukan dalam artikel ilmiah dosen S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unesa dengan klik disini.
Sebagai calon guru, penting banget buat tahu kapan saat yang tepat menggunakan
AI, dan kapan harus berpikir sendiri.
AI bisa jadi teman yang oke banget buat cari ide, tapi jangan sampai kita malah kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Yuk, bijak dalam memanfaatkan teknologi ini!