Memahami Tiga Metode Penelitian Kualitatif: Studi Kasus, Fenomenologi, dan Grounded Theory
Penelitian kualitatif dilakukan untuk memahami perilaku manusia, pengalaman, serta fenomena sosial. Tiga diantaranya adalah Studi Kasus, Fenomenologi, dan Grounded Theory. Ketiganya sama-sama berfokus pada makna, bukan angka. Namun, masing-masing memiliki tujuan, lingkup, dan hasil yang berbeda.
Studi Kasus
Studi kasus meneliti sebuah sistem tertentu (misalnya seseorang, kelompok, kelas, atau program) saja secara mendalam dan dalam konteks nyata.
Tujuannya adalah memberikan gambaran yang kaya dan detail tentang bagaimana dan mengapa sebuah kasus/peristiwa terjadi/berlangsung.
Data biasanya diperoleh dari berbagai sumber, seperti wawancara, observasi, dan dokumen, untuk membangun pemahaman yang menyeluruh.
Contoh Judul:
Studi Kasus Penerapan Project-Based Learning di Kelas Bahasa Inggris SMA di Indonesia
Fenomenologi
Fenomenologi berfokus pada penggalian esensi pengalaman hidup (lived experience) individu yang mengalami fenomena yang sama.
Tujuannya adalah menangkap apa yang dialami dan bagaimana pengalaman itu dijalani.
Pendekatan ini berakar pada filsafat dan biasanya menggunakan wawancara mendalam untuk menemukan makna subjektif dari pengalaman partisipan.
Contoh Judul:
Studi Fenomenologi tentang Pengalaman Mahasiswa Menghadapi Kecemasan Berbicara dalam Bahasa Inggris
Grounded Theory
Grounded Theory tidak hanya bertujuan untuk mendeskripsikan, tetapi juga untuk mengembangkan teori baru yang lahir langsung dari data.
Peneliti mengumpulkan data secara berulang, melakukan coding, kategorisasi, hingga konsep-konsep terbentuk dan mencapai titik jenuh.
Hasil akhirnya adalah kerangka konseptual yang menjelaskan proses atau hubungan dalam sebuah fenomena.
Contoh Judul:
Pengembangan Grounded Theory tentang Motivasi Mahasiswa dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Daring
Tabel Perbandingan
|
Aspek |
Studi Kasus |
Fenomenologi |
Grounded Theory |
|
Tujuan Utama |
Memberikan pemahaman mendalam tentang suatu kasus dalam konteks nyata. |
Mengungkap esensi dan makna pengalaman hidup individu terhadap suatu fenomena. |
Mengembangkan teori baru yang berangkat dari data yang dikumpulkan dan dianalisis secara sistematis.
|
|
Objek Penelitian |
Kasus tertentu: individu, kelompok, program, atau peristiwa. |
Individu yang berbagi pengalaman terhadap fenomena yang sama.
|
Proses sosial, interaksi, atau fenomena lintas partisipan/setting. |
|
Hasil |
Narasi detail dan penjelasan tentang kasus. |
Deskripsi tentang “apa” dan “bagaimana” fenomena itu dialami.
|
Kerangka konseptual atau teori. |
|
Sumber Data |
Wawancara, observasi, dokumen, artefak. |
Wawancara mendalam, terkadang jurnal atau tulisan reflektif. |
Data yang dikumpulkan secara iteratif: wawancara, catatan lapangan, coding berkelanjutan.
|
|
Analisis |
Deskriptif dan eksplanatif, triangulasi berbagai sumber data. |
Analisis tematik untuk menemukan esensi pengalaman bersama. |
Coding induktif (open, axial, selective) secara berulang hingga saturasi.
|
|
Lingkup |
Spesifik pada konteks tertentu. |
Spesifik pada pengalaman tertentu. |
Fokus pada pembentukan konsep atau teori.
|
Intinya, meskipun Studi Kasus, Fenomenologi, dan Grounded Theory sama-sama termasuk penelitian kualitatif, masing-masing memiliki kekhasan:
- Studi Kasus menyajikan cerita mendalam tentang satu kasus.
- Fenomenologi menggali esensi dari pengalaman hidup secara mendalam.
- Grounded Theory mengembangkan teori baru berdasarkan data.
Mana di antara metode ini yang sebaiknya dipilih akan sangat tergantung pada tujuan penelitian: apakah peneliti ingin mendeskripsikan, memahami, atau membentuk teori.