Kenapa Cara Belajarmu Bisa Berbeda dengan Temanmu? Ini Jawabannya
Pernah merasa ada teman yang cepat sekali hafal kosakata Bahasa Inggris, sementara kamu lebih paham kalau diajak diskusi atau praktik langsung? Atau sebaliknya, kamu justru bingung ketika guru terlalu banyak mengajak debat, padahal kamu ingin penjelasan yang jelas dan terstruktur?
Tenang, itu bukan karena kamu “kurang pintar”.
Bisa jadi, cara belajarmu memang bekerja dengan pendekatan yang berbeda.
Dalam dunia pendidikan, perbedaan ini dijelaskan melalui berbagai teori pembelajaran. Teori-teori ini membantu kita memahami bagaimana manusia belajar, apa yang membuat belajar efektif, dan bagaimana guru seharusnya mengajar—termasuk dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Mari kita kenali beberapa teori pembelajaran paling berpengaruh, bukan sebagai teori yang kaku, tetapi sebagai cara melihat proses belajar dari sudut pandang yang berbeda.
1. Behaviorisme:
Belajar Itu Soal Kebiasaan
Dalam pandangan behaviorisme, belajar dipahami sebagai proses membentuk kebiasaan baru.
Fokus utamanya bukan pada apa yang dipikirkan siswa, melainkan pada apa yang bisa diamati: apakah siswa bisa menjawab dengan benar, menggunakan struktur yang tepat, atau mengucapkan kata dengan pelafalan yang sesuai.
Jika suatu respons sering dilatih dan diberi penguatan, maka respons itu akan menjadi kebiasaan.
Tokoh-tokoh seperti B.F. Skinner, John B. Watson, dan Ivan Pavlov percaya bahwa pengulangan dan penguatan adalah kunci utama belajar. Karena itu, teori ini sangat menekankan latihan berulang, pola yang konsisten, dan umpan balik langsung.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, behaviorisme tampak jelas ketika:
· Siswa berlatih grammar drills secara rutin.
· Guru memberi pujian setiap kali siswa menggunakan tenses dengan benar.
· Kesalahan langsung dikoreksi agar tidak menjadi kebiasaan.
Pendekatan ini efektif untuk membangun dasar bahasa, terutama kosakata dan struktur kalimat, meskipun sering dikritik karena kurang memberi ruang berpikir kritis.
2. Kognitivisme:
Belajar Itu Proses Berpikir
Berbeda dengan behaviorisme, kognitivisme melihat belajar sebagai proses mental yang kompleks. Teori ini memandang otak seperti “mesin pengolah informasi” yang aktif: menerima, menyimpan, menghubungkan, dan memaknai informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada.
Tokoh seperti Jean Piaget, Jerome Bruner, dan David Ausubel menekankan bahwa belajar akan efektif jika siswa benar-benar memahami, bukan sekadar menghafal. Struktur pengetahuan, logika, dan keterkaitan konsep menjadi sangat penting.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, pendekatan kognitif terlihat ketika:
· Guru menggunakan timeline untuk menjelaskan perbedaan simple past dan present perfect.
· Siswa diminta menganalisis pola kalimat, bukan hanya menirukan.
· Teks bacaan dibahas melalui pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Pendekatan ini membantu siswa memahami bahasa secara rasional dan sistematis, cocok untuk materi yang bersifat konseptual seperti grammar dan reading comprehension.
3. Konstruktivisme:
Pengetahuan Dibangun, Bukan Diberikan
Konstruktivisme membawa gagasan yang cukup revolusioner: pengetahuan tidak bisa sekadar “ditransfer” dari guru ke siswa. Pengetahuan harus dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman, eksplorasi, dan interaksi.
Tokoh seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky percaya bahwa belajar paling efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dan diberi kesempatan untuk menafsirkan dunia dengan caranya sendiri. Kesalahan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar.
Dalam kelas Bahasa Inggris, konstruktivisme tampak melalui:
· Diskusi kelompok untuk menafsirkan makna teks.
· Proyek membuat podcast, vlog, atau drama berbahasa Inggris.
· Guru lebih sering bertanya daripada menjelaskan panjang lebar.
Pendekatan ini membuat kelas lebih hidup dan relevan, terutama bagi generasi muda yang terbiasa belajar lewat pengalaman dan kolaboras
4. Humanisme:
Belajar Itu Soal Perasaan Juga
Teori humanisme mengingatkan kita pada satu hal penting: siswa bukan mesin belajar. Mereka punya perasaan, kecemasan, kepercayaan diri, dan kebutuhan untuk dihargai. Jika aspek emosional ini diabaikan, proses belajar bisa terhambat.
Tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow menekankan bahwa lingkungan belajar yang aman dan suportif adalah syarat utama agar siswa bisa berkembang secara optimal.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, humanisme tercermin ketika:
· Guru tidak mempermalukan siswa saat salah berbicara.
· Siswa diberi kebebasan memilih topik yang mereka sukai.
· Kelas menjadi ruang aman untuk mencoba, salah, dan belajar lagi.
Pendekatan ini sangat penting untuk keterampilan berbicara (speaking), yang sering membuat siswa merasa takut dan minder.
5. Teori Sosial-Kultural:
Bahasa Lahir dari Interaksi
Teori sosial-kultural memandang belajar sebagai aktivitas sosial. Bahasa tidak dipelajari secara individual semata, tetapi melalui interaksi dengan orang lain dan lingkungan budaya.
Lev Vygotsky menekankan konsep seperti scaffolding dan Zone of Proximal Development—bahwa siswa bisa belajar lebih baik dengan bantuan orang lain yang lebih kompeten, baik guru maupun teman sebaya.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, teori ini terlihat ketika:
· Siswa belajar melalui kerja kelompok dan diskusi.
· Teman saling membantu mengoreksi tulisan atau presentasi.
· Guru memberi bantuan bertahap, lalu perlahan menguranginya.
Pendekatan ini sangat relevan di kelas yang beragam dan kolaboratif.
==========
Jadi, Teori Mana yang Paling Benar?
Jawabannya: tidak ada satu teori yang selalu paling benar.
Guru Bahasa Inggris yang reflektif justru mengombinasikan berbagai teori sesuai konteks, tujuan pembelajaran, dan karakter siswa. Kadang kita perlu drill, kadang diskusi; kadang penjelasan logis, kadang ruang aman untuk berekspresi.
Memahami teori pembelajaran bukan soal menghafal nama tokoh, tetapi tentang memahami bagaimana manusia belajar. Dan ketika guru memahami itu, kelas Bahasa Inggris bisa berubah dari sekadar rutinitas menjadi pengalaman belajar yang bermakna.