Dry Texting dalam Perspektif Pragmatik Bahasa Inggris
Dalam komunikasi sehari-hari, terutama melalui pesan teks, makna tidak selalu terletak pada kata-kata yang tertulis secara eksplisit. Sering kali, justru makna tersembunyi (apa yang dimaksudkan pembicara) lebih penting daripada apa yang diucapkan. Di sinilah kajian pragmatik menjadi relevan untuk memahami fenomena dry texting dalam bahasa Inggris.
Dry texting bukan sekadar
kebiasaan membalas singkat, tetapi merupakan fenomena komunikasi yang sarat
makna pragmatik. Dalam bahasa Inggris, ia menunjukkan bagaimana makna dibangun
melalui konteks, implikatur, dan strategi interaksi, bukan semata-mata melalui
struktur kalimat. Oleh karena itu, kajian dry texting menjadi contoh konkret
dan relevan untuk menjelaskan pentingnya pragmatik dalam komunikasi modern,
khususnya di era digital.
Apa Sih Pragmatik Itu?
Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna ujaran dalam konteks penggunaannya. Berbeda dengan semantik yang berfokus pada makna literal kata atau kalimat, pragmatik menelaah bagaimana konteks, relasi penutur–mitra tutur, tujuan komunikasi, serta situasi sosial memengaruhi penafsiran makna.
Sebagai contoh, secara semantik kalimat “I’m fine” berarti “Saya baik-baik saja.”
Namun secara pragmatik, kalimat yang sama bisa bermakna:
- “Saya tidak ingin membicarakannya.”
- “Sebenarnya saya tidak baik-baik saja.”
- “Mari akhiri topik ini.”
Makna pragmatik muncul dari cara, kapan, dan dalam situasi apa ujaran tersebut digunakan.
Dry Texting sebagai Fenomena Pragmatik
Dalam konteks pragmatik bahasa Inggris, dry texting dapat dipahami sebagai strategi komunikasi yang minim kontribusi interaksional.
Pesan yang dikirim mungkin benar secara gramatikal, tetapi gagal memenuhi fungsi pragmatik untuk menjaga kelangsungan percakapan.
Contoh:
- “Ok.”
- “Sure.”
- “Fine.”
Dari sisi semantik, pesan-pesan ini dapat diterima.
Namun secara pragmatik, balasan tersebut:
- Tidak memperluas topik
- Tidak menunjukkan keterlibatan emosional
- Tidak mengundang turn-taking lanjutan
Dry Texting dan Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)
Fenomena dry texting dapat dianalisis melalui Cooperative Principle dari H. P. Grice, khususnya tiga dari empat maksim percakapan:
1.
Maksim Kuantitas
Penutur diharapkan memberi informasi secukupnya.
Dry texting sering melanggar maksim ini karena informasi yang diberikan terlalu
minim.
2.
Maksim Relevansi
Ujaran harus relevan dengan konteks.
Jawaban singkat yang tidak mengembangkan topik dapat terasa tidak relevan
secara pragmatik.
3.
Maksim Cara (Manner)
Ujaran seharusnya jelas dan tidak ambigu.
Balasan seperti “whatever” atau “up to you” kerap menimbulkan
ambiguitas niat.
Dry texting, dengan demikian, sering ditafsirkan sebagai kurangnya kerja sama komunikatif, meskipun secara sadar atau tidak.
Implikatur dalam Dry Texting
Salah satu konsep kunci pragmatik adalah implikatur, yaitu makna yang tidak diucapkan secara langsung tetapi disimpulkan oleh mitra tutur.
Contoh:
A: “Do you want to talk later?”
B: “I’m tired.”
Secara literal, B hanya menyatakan kondisi fisik.
Namun secara pragmatik, implikatur yang muncul bisa berupa:
- Penolakan halus
- Keengganan melanjutkan komunikasi
Dalam dry texting, implikatur sering kali bersifat negatif atau menjauh, meskipun tidak pernah diungkapkan secara eksplisit.
Face, Politeness, dan Dry Texting
Menurut teori politeness Brown & Levinson, setiap individu memiliki face atau citra diri yang ingin dijaga.
Dry texting dapat berfungsi sebagai:
- Cara mempertahankan negative face (keinginan untuk tidak diganggu)
- Strategi menghindari konflik langsung
- Bentuk penolakan yang tidak konfrontatif
Alih-alih berkata “I don’t want to chat,” seseorang memilih balasan singkat dan datar sebagai sinyal pragmatik.
Implikasi bagi Pembelajaran Bahasa Inggris
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, memahami dry texting penting karena:
- Membantu pelajar memahami makna tersirat dalam komunikasi digital
- Mengajarkan bahwa kompetensi berbahasa tidak hanya soal grammar dan vocabulary
- Mengembangkan pragmatic competence, yaitu kemampuan menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks sosial
Siswa yang hanya memahami makna literal mungkin menafsirkan “Ok.” sebagai netral, padahal secara pragmatik bisa bermakna penolakan atau ketidaktertarikan.