Dari Surabaya ke Nagoya: Perjalanan Inspiratif Melalui Program NUPACE
Banyak mahasiswa bermimpi bisa kuliah di luar negeri, mengenal budaya baru, dan menambah pengalaman internasional. Begitu juga dengan Muhammad Fikri Rivaldi, seorang mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unesa yang akhirnya mendapat kesempatan emas untuk mengikuti NUPACE (Nagoya University Program for Academic Exchange), sebuah program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh Nagoya University, Jepang.
Proses Aplikasi: Perjuangan Panjang yang Berbuah Manis
Semua dimulai dari rasa penasaran:
“Bisakah benar-benar kuliah di Jepang?”
Proses yang ditempuh cukup panjang, kurang lebih 7 Bulan dari Februari sampai keberangkatan September.
Fikri harus mengisi formulir, menyiapkan transkrip akademik, surat rekomendasi dari dosen, hingga bukti kemampuan bahasa Inggris.
Dari tahap pengumpulan berkas sampai pengumuman, semuanya memakan waktu sekitar 3–4 bulan.
Jika dirinci, aplikasi Unesa Februari 2025, aplikasi ke NUPACE Maret 2025, dan pengumuman dinyatakan lolos 13 Juni 2025
Masa penantian itu penuh rasa deg-degan, tapi akhirnya kabar baik datang: Fikri diterima!
Siapa Saja yang Bisa Mendaftar?
Program NUPACE terbuka bagi mahasiswa aktif dari universitas yang bekerja sama dengan Nagoya University.
Syaratnya antara lain:
· Mahasiswa Unesa jurusan apapun minimal semester 5
- Mampu berbahasa Inggris (TOEFL/IELTS) atau Jepang
Untuk prodi S1 Pendidikan Bahasa inggris sudah lulus TEP dengan skor minimal 527
Untuk selain prodi berbasis Bahasa inggris harus ada IELTS 6.0 atau ekuivalen
Atau mampu berbahasa Jepang dengan sertifikat JLPT N1
- Mendapat rekomendasi resmi dari universitas asal.
Artinya, kesempatan ini bukan hanya untuk mereka yang sudah mahir bahasa Jepang, tapi juga bagi mahasiswa dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik.
Persiapan Sebelum Keberangkatan
Sebelum berangkat, banyak hal yang harus dipersiapkan:
- Mengurus visa pelajar dan tiket pesawat.
- Menyiapkan kebutuhan pribadi yang diperlukan selama di Jepang, misalnya tempat tinggal di asrama mahasiswa.
- Belajar bahasa Jepang dasar karena orang Jepang umumnya tidak bisa pakai Bahasa inggris
- Menyiapkan mental untuk tinggal jauh dari keluarga.
Waktu dan Lama Program
Fikri mulai kuliah di Jepang pada September (Fall Semester) 2025 sampai Agustus 2026 sebagai mahasiswa pertukaran pelajar. Waktu satu tahun ini memungkinan mahasiswa benar-benar merasakan kehidupan kampus di Jepang.
Kuliah dan Aktivitas Sehari-hari
Di Nagoya University, Fikri mengikuti kuliah selama 2 semester, belajar di School of education sebagai mahasiswa pertukaran pelajar.
Selama berkuliah di Nagoya, Fikri bisa merasakan kehidupan di Jepang dan bisa bersosialisasi dengan mahasiswa internasional lain dari belahan dunia manapun.
Bahasa di Kampus
Mayoritas kuliah yang Fikri ambil menggunakan bahasa Inggris, jadi tidak perlu khawatir bila belum fasih berbahasa Jepang. Namun, ada juga yang dalam bahasa Jepang.
Kemampuan bahasa Jepang juga penting untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari—seperti belanja, transportasi, dan interaksi dengan masyarakat lokal.
Ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan emas untuk belajar langsung dari lingkungan.
Culture Shock yang Mengubah Cara Pandang
Tentu saja ada culture shock. Awalnya Fikri kaget dengan kedisiplinan orang Jepang, terutama soal waktu dan kebersihan. Cara mereka berkomunikasi juga sangat sopan dan berbeda dengan kebiasaan Fikri di Indonesia.
Pengolahan sampah di Jepang benar-benar ketat. Sampah harus dipilah dengan seksama. Kaleng disini, plastik makanan disini, botol disini. Bahkan botol dan tutupnya dibuang di tempat sampah yang berbeda di asrama Fikri.
Fikri juga merasakan satu pengalaman dan kebiasaan baru yang bagus terkait jalan kaki
Di Jepang, jalan kaki sangat enak. Meskipun lelah tapi jalanannya sangat nyaman. Trotoar luas, nyebrang pun sangat mudah karena selalu ada penyebrangan dan pengendara mobil selalu menghormati pejalan kaki.
Fikri membandingkan dengan kondisi di tanah air kita dimana mau nyebrang dengan lampu penyebrangan yang ada suaranya saja tetap beresiko ditabrak mobil.
Dari situ Fikri belajar banyak hal baru: menghargai waktu, menjaga lingkungan, dan lebih peka terhadap orang lain.
Pesan untuk Calon Pendaftar NUPACE
Buat kamu yang bermimpi kuliah di Jepang, jangan ragu untuk mencoba! Persaingan memang ada, tapi kesempatan ini terbuka untuk siapa saja yang mau berusaha. Persiapkan dokumen, latih bahasa, dan yakinkan diri sendiri. Ingat, program ini bukan sekadar belajar di kelas, tetapi juga membuka pintu untuk memahami dunia yang lebih luas.
Pesan penting dari Fikri:
“This is a very big opportunity; you have to apply.
Tidak semua kampus di Indonesia bisa ikut NUPACE ini. Beruntunglah mahasiswa Unesa karena Unesa salah satu yang bisa karena sudah menjalin kerjasama dengan Nagoya University. Apalagi yang suka jejepangan dan punya Japanese Dream seperti Fikri”.
Kalau Fikri bisa lolos NUPACE, kamu pun juga bisa. Jadi, jangan takut bermimpi besar dan berani mencoba!