BURNOUT AKADEMIK: LELAH BATIN MAHASISWA
Burnout akademik bukan sekadar lelah biasa karena kurang tidur atau tugas menumpuk. Ini adalah kelelahan yang mendalam—emosional, mental, bahkan fisik—akibat tekanan belajar yang terus-menerus tanpa jeda.
Mahasiswa S1 mungkin menyebutnya titik jenuh, mahasiswa S2 sering menyebutnya overwhelmed, dan mahasiswa S3 mungkin menggambarkannya sebagai mental collapse.
Semua istilah itu mengarah ke satu hal: tubuh ada, tapi semangat seolah hilang.
Dalam dunia psikologi, burnout disebut sebagai kondisi stres kronis yang tidak terkelola. Psikolog Christina Maslach menggambarkan burnout lewat tiga gejala utama:
- Kelelahan emosional (merasa kosong, letih, hampa)
- Sinisme atau sikap menjauh dari tugas (malas mengerjakan, tidak peduli)
- Rasa gagal atau tidak mampu berprestasi (merasa tidak cukup, selalu kurang)
Gejala burnout pada mahasiswa berdasarkan jenjang:
- Mahasiswa S1:
mudah bosan kuliah, menunda tugas terus-menerus, sulit bangun pagi, kehilangan arah tujuan.
- Mahasiswa S2:
mulai mempertanyakan apakah gelar ini sepadan, mudah frustasi saat menyusun proposal atau tugas akhir, merasa bersalah saat istirahat.
- Mahasiswa S3:
mengalami imposter syndrome, cemas berkepanjangan soal disertasi, merasa sendirian dalam medan perang intelektual.
Apa sih penyebab burnout akademik?
Psikologi menjelaskan bahwa burnout tidak muncul tiba-tiba. Ia terbentuk
perlahan, seperti air yang menetes ke batu hingga membentuk cekungan.
Berikut faktor-faktor yang mempercepat kelelahan akademik:
1. Tekanan Prestasi & Ekspektasi Sosial
Mahasiswa S1 dituntut cepat lulus, S2 dan S3 dikejar kewajiban publikasi. Semua jenjang punya tekanan yang sama-sama berat.
Tekanan akan terasa semakin berat kalau ditambah tuntutan dari orang tua, pasangan, pimpinan di kantor, atau lingkungan yang bertanya, “Kapan lulus?” “Kapan seminar?” “Sudah publish belum?”
2. Overwork – Underrest
Istirahat dianggap sebagai kemewahan. Padahal, menurut teori psikologi kognitif, otak butuh waktu jeda agar bisa memproses dan menyimpan informasi secara efektif.
Tanpa istirahat, otak seperti komputer yang terus menyala tanpa shutdown—lambat, mudah crash.
3. Kurangnya Dukungan Emosional
Banyak mahasiswa merasa harus kuat sendiri. Padahal dalam teori psikologi sosial, dukungan emosional (social support) adalah “bantalan mental” yang bisa menyerap stres.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa punya akses ke teman bicara yang benar-benar mau dan bisa jadi pendengar yang baik, bukan sekadar memberi nasihat kosong.
4. Perfeksionisme yang Tidak Realistis
“Kalau tidak sempurna, lebih baik tidak usah.” Pikiran ini umum ditemui pada mahasiswa magister dan doktoral. Perfeksionisme yang berlebihan sering kali melahirkan kecenderungan menunda-nunda, rasa takut gagal, hingga kelumpuhan produktivitas (analysis paralysis).
Bagaimana Mengatasinya?
1. Kenali Diri, Terima Emosi
Langkah pertama adalah sadar bahwa Kita sedang burnout.
Jangan lawan perasaan itu—terima, pahami, lalu pelan-pelan cari cara menghadapinya.
Validasi emosi itu penting.
Kita tidak lemah karena lelah. KITA MANUSIA.
2. Reorganisasi Hidup Akademik
Susun ulang ritme belajar.
Gunakan teknik seperti:
- Pomodoro (belajar 25 menit, istirahat 5 menit)
- Time-blocking (jadwal belajar dan waktu santai dipisahkan)
- Prioritizing tasks (pakai metode Eisenhower Matrix)
3. Bangun Sistem Dukungan (support system)
Carilah komunitas. Bisa dari teman seangkatan, grup diskusi daring, atau bahkan forum mahasiswa pascasarjana.
Jangan anggap curhat sebagai kelemahan. Justru itulah kekuatan: bisa membuka diri, bisa berbagi.
Komunitas ini jug apenting untuk bisa mendapatkan info ter-update terkait call for paper jurnal maupun kebijakan-kebijakan akademik terkait studi kita.
4. Kurangi Perfeksionisme
Gagal bukan akhir dunia. Tidak semua makalah harus sempurna. Tidak semua publikasi harus Q1. Belajar menerima proses adalah kunci bertahan di dunia akademik. Dalam CBT (Cognitive Behavioral Therapy), mengubah pikiran ekstrem menjadi lebih realistis bisa menurunkan tekanan mental.
Dengan berpikir realistis, kita bisa memikirkan strategi yang jitu untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban akademik kita.
5. Istirahat Bukan Dosa, Tapi Kebutuhan
Jalan-jalan, tidur cukup, mendengarkan musik, atau bahkan sekadar duduk diam menikmati secangkir kopi—semua itu bentuk perawatan diri yang sah.
Self-care bukan egois, tapi langkah bertahan.
Menikmati me time bisa jadi solusi untuk menyegarkan tubuh dan otak.
6. Minta Bantuan Profesional
Kalau kelelahan ini sudah membuat kita kehilangan semangat hidup, sering menangis, atau merasa dunia gelap, segera cari bantuan.
Konselor kampus, psikolog, atau psikiater bisa memberi peta untuk keluar dari kabut burnout.
Menjadi mahasiswa di era sekarang memang tidak mudah. Dunia menuntut banyak, sementara waktu kita terbatas, energi pun sering tak cukup.
Tapi burnout bukan akhir segalanya. Ini adalah sinyal dari tubuh dan pikiran bahwa ada yang perlu diubah.
Dengar dan perhatikanlah sinyal itu.
Perlu digarisbawahi bahwa perjalanan akademik bukan lomba lari cepat.
Ini
maraton panjang yang hanya bisa dituntaskan oleh mereka yang tahu kapan harus
berhenti sejenak, minum air, dan melanjutkan dengan langkah baru.
Jadi, tidak apa-apa kalau langkah itu lebih lambat dari yang lain. Yang penting: kita tetap berjalan dan sampai di tujuan kita dengan selamat dan bahagia.