Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-80: Mencintai Tanpa Syarat
Delapan puluh tahun sudah Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka. Angka ini bukan hanya sekadar hitungan tahun, tapi juga perjalanan panjang yang penuh cerita: perjuangan, kegembiraan, sekaligus tantangan yang tak pernah usai.
Di satu sisi, kita bisa bangga—Indonesia tetap tegak sebagai negara yang berdaulat. Namun, di sisi lain, kita perlu jujur berkaca: masih banyak pekerjaan rumah besar yang belum selesai.
Hari ini, kita melihat begitu banyak saudara sebangsa yang hidup dalam kesulitan. Jumlah orang miskin dan pengangguran masih tinggi. Pendidikan belum merata, kualitasnya pun sering tertinggal. Sementara itu, kerusakan lingkungan semakin nyata, dari polusi udara hingga hutan yang habis ditebang. Kadang, kondisi ini membuat kita bertanya-tanya: benarkah kita sudah benar-benar merdeka?
Refleksi ini bukan untuk membuat kita patah semangat. Justru dari sanalah lahir kesadaran baru. Bangsa ini bukan hanya milik penguasa atau segelintir orang kaya. Indonesia adalah milik kita semua. Jika masih banyak masalah, berarti kita punya peran untuk ikut bergerak.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk bertahan hidup dan tetap mencintai Indonesia tanpa syarat?
Pertama, belajar untuk mandiri. Jangan menunggu bantuan turun dari langit. Keterampilan, kreativitas, dan kerja keras adalah bekal utama agar bisa survive di tengah persaingan.
Kedua, peduli pada pendidikan, mulai dari diri sendiri dan keluarga. Membaca, belajar, dan terus mengasah diri adalah cara sederhana tapi kuat untuk memperbaiki bangsa.
Ketiga, menjaga alam. Bisa kita mulai dari hal kecil seperti mengurangi sampah plastik, menanam pohon, atau bijak menggunakan energi.
Keempat, jangan kehilangan harapan. Pencinta sejati tak hanya hadir saat indah, tapi juga tetap setia ketika keadaan sulit. Begitu pula mencintai Indonesia—cinta tanpa syarat, meski terkadang penuh luka.
Kemerdekaan ke-80 ini seharusnya menjadi momen perenungan. Kita sadar bahwa perjalanan bangsa masih panjang dan berliku. Tapi justru karena panjang, setiap langkah kecil kita sangat berarti.
Indonesia mungkin belum sempurna, tapi ia adalah rumah.
Dan rumah selalu pantas untuk dijaga, diperjuangkan, dan dicintai—tanpa syarat.