Power and Solidarity dalam Linguistik

Dalam linguistik, konsep power (kekuasaan) dan solidarity (solidaritas/keakraban) digunakan untuk menjelaskan bagaimana hubungan sosial berprean dalam berkomunikasi
dengan orang lain. Kedua konsep
ini menjelaskan hubungan sosial yang tercermin dalam bahasa yang kita gunakan
sehari-hari.
Power (Kekuasaan)
Power merujuk pada hubungan di mana satu pihak memiliki lebih banyak pengaruh atau kekuasaan daripada yang lain. Ketika seseorang memiliki lebih banyak kekuasaan, biasanya cara bicaranya lebih formal, menggunakan kalimat yang lebih tegas atau bahkan memberi instruksi.
Solidarity (Solidaritas/Keakraban)
Solidarity merujuk pada hubungan yang setara, dekat, akrab antara dua orang. Solidarity terjadi ketika orang merasa mereka berada di posisi yang sama, seperti teman sebaya, sehingga tidak perlu menggunakan bahasa formal. Orang yang memiliki hubungan solidaritas lebih cenderung berbicara secara santai, tidak formal, dan penuh keakraban.
Mengapa power & solidarity terjadi?
Perbedaan penggunaan bahasa berdasarkan power dan solidarity terjadi karena status sosial dan hubungan pribadi antara orang-orang yang berkomunikasi.
Orang dengan posisi yang lebih tinggi (seperti bos, guru, atau orang tua) akan sering berbicara lebih tegas dan formal karena memiliki kekuasaan lebih.
Jika dua orang merasa dekat satu sama lain, mereka cenderung berbicara secara informal dan santai, menunjukkan kedekatan dan keakraban.
Norma sosial dan kesopanan juga berpengaruh di setiap situasi. Setiap budaya memiliki norma-norma tentang kapan dan bagaimana berkomunikasi secara formal atau informal, tergantung pada siapa lawan bicara kita.
Contoh power & solidarity dalam keseharian
Dalam konteks percakapan antara penjual dan pembeli dalam sebuah transaksi jual beli, konsep power dan solidarity bisa terlihat dengan jelas. Cara mereka berbicara dapat berubah tergantung pada situasi transaksi, posisi sosial, atau hubungan pribadi antara penjual dan pembeli.
Power dalam Transaksi Jual Beli
Dalam percakapan jual beli, power biasanya berada di tangan penjual, karena mereka yang mengontrol harga dan ketersediaan barang. Penjual memiliki kekuasaan untuk menentukan aturan transaksi dan pembeli harus mengikuti aturan tersebut.
Contoh:
“Ini harga terbaik yang kami punya, tidak bisa ditawar lagi.”
Di sini, penjual menegaskan kekuasaannya dengan menyatakan bahwa harga tidak bisa dinegosiasikan, memperlihatkan kekuasaan dalam menentukan harga.
Namun, pembeli juga memiliki kekuasaan tertentu, yaitu hak untuk memilih barang atau jasa yang diinginkan, termasuk untuk menawar atau memutuskan tidak membeli.
Contoh:
“Saya akan beli jika diberi potongan harga.”
Pembeli menunjukkan kekuasaan untuk memilih apakah ingin membeli atau tidak, tergantung pada apakah penjual bersedia menurunkan harga.
Solidarity dalam Transaksi Jual Beli
Di sisi lain, solidarity dapat muncul jika penjual dan pembeli memiliki hubungan yang lebih dekat atau ingin menciptakan suasana yang akrab. Dalam situasi ini, mereka cenderung berbicara secara lebih santai dan menggunakan bahasa yang lebih informal.
Solidarity biasanya lebih terlihat dalam interaksi di pasar tradisional atau toko kecil di mana penjual dan pembeli sering bertemu dan saling mengenal.
Contoh 1 - Penjual ke pembeli (dengan akrab)
“Mbak, langganan kan? Biar deh saya kasih diskon khusus buat mbak.”
Si penjual di sini menggunakan bahasa yang lebih santai dan informal, menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dekat dan ingin menciptakan rasa kebersamaan dengan memberikan diskon khusus.
Contoh 2 - Pembeli ke penjual (dengan akrab)
“Bu, kasih murah ya, kan saya sering belanja di sini!”
Pembeli menggunakan kata-kata informal dan bahasa yang akrab, menunjukkan adanya hubungan yang lebih dekat dan memanfaatkan solidaritas untuk mendapatkan harga yang lebih baik.
Power dan solidarity dalam percakapan antara penjual dan pembeli terjadi karena beberapa alasan:
1. Status atau peran
Penjual dan pembeli memiliki peran yang berbeda. Penjual bertugas menawarkan barang dan mengontrol harga, sementara pembeli memiliki kekuasaan untuk memutuskan apakah mereka ingin membeli atau tidak.
2. Hubungan sosial
Jika penjual dan pembeli sudah saling mengenal, solidaritas lebih sering muncul. Mereka berbicara lebih santai dan ramah, bahkan mungkin ada unsur tawar-menawar yang lebih fleksibel.
3. Konteks budaya
Di pasar tradisional, transaksi sering kali diwarnai dengan keakraban dan bahkan candaan, yang mencerminkan solidaritas.
Contoh di atas menegaskan bahwa pemahaman akan kedua konsep ini membantu menjelaskan bagaimana bahasa dan gaya bicara berubah tergantung pada kekuasaan dan hubungan sosial dalam komunikasi antar 2 penutur yang berbeda peran. Dengan memahami konsep ini, penutur bahasa diharapkan mampu menempatkan diri dan menggunakan bahasa yang tepat saat berkomunikasi dengan siapapun