Post-Truth: Pengertian dan Pengaruhnya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Post-truth adalah istilah yang merujuk pada situasi di mana fakta objektif memiliki pengaruh lebih kecil dalam membentuk opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi.
Istilah ini menjadi populer sejak 2016 ketika Oxford Dictionaries menjadikannya “Word of the Year”.
Era ini ditandai dengan meningkatnya penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan semakin berpengaruhnya emosi dalam membentuk opini publik, termasuk dalam ranah pendidikan.
Lantas, bagaimana era post-truth memengaruhi pembelajaran bahasa Inggris? Apakah dampaknya positif atau negatif, dan bagaimana cara mengatasi dampak buruknya?
Dampak Positif Post-Truth dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Meski tidak banyak, post-truth masih mempunyai sisi positif yang bisa kita gali dan manfaatkan untuk pembelajaran bahasa Inggris.
Berikut ini dampak positif post-truth:
1. Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
Dalam era post-truth, banyaknya informasi berbahasa Inggris yang salah atau menyesatkan dapat digunakan untuk melatih siswa berpikir kritis.
Mereka dapat diajarkan untuk menilai keakuratan dan kredibilitas sumber informasi, melatih mereka untuk membedakan fakta dari opini atau berita palsu (hoaks).
Keterampilan ini sangat penting, tidak hanya dalam pembelajaran bahasa tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Tema post-truth dapat diangkat sebagai topik diskusi dalam pembelajaran berbasis proyek.
Misalnya, siswa dapat ditugaskan untuk meneliti berita palsu dalam bahasa Inggris, membedakan fakta dan opini, atau bahkan membuat kampanye tentang literasi informasi.
Ini mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang relevan dan kontekstual.
Selain dampak positif, Post-Truth juga memberikan dampak negatif dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Dampak negatifnya, antara lain:
1. Penyebaran Disinformasi
Disinformasi adalah informasi yang salah atau menyesatkan yang sengaja dibuat dan disebarluaskan dengan tujuan untuk menipu atau memengaruhi persepsi orang lain.
Disinformasi berbeda dengan misinformasi. Misinformasi merupakan penyebaran informasi salah tanpa kesengajaan.
Disinformasi berfokus pada manipulasi fakta secara sengaja untuk mengaburkan kebenaran, menciptakan kebingungan, atau mendukung kepentingan tertentu.
Disinformasi sering digunakan dalam propaganda politik, kampanye media sosial, atau untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu, dan dapat berdampak buruk pada kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang benar.
Post-truth berkontribusi pada peningkatan penyebaran berita palsu, hoaks, atau informasi yang tidak akurat. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, siswa bisa saja terpapar pada sumber-sumber informasi berbahasa Inggris yang tidak diverifikasi, seperti artikel online, media sosial, atau video. Jika siswa mempercayai atau menyebarkan informasi ini tanpa memeriksa kebenarannya, mereka akan memiliki pemahaman yang salah terhadap konten yang dipelajari.
Informasi palsu juga dapat menciptakan kebingungan, karena siswa mungkin kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ini berpotensi menghambat pemahaman mereka terhadap materi pelajaran, terutama jika berhubungan dengan topik yang kompleks atau kontroversial. Jika tidak dibimbing dengan baik, siswa bisa mengembangkan persepsi yang keliru dan berbahaya.
2. Polarisasi Opini
Polarisasi opini adalah kondisi di mana masyarakat atau kelompok individu terbagi menjadi dua atau lebih kelompok yang memiliki pandangan, sikap, atau keyakinan yang sangat berbeda atau bahkan bertentangan satu sama lain.
Biasanya, kelompok-kelompok ini cenderung memperkuat pandangan mereka sendiri sambil mengabaikan atau menolak argumen dan sudut pandang pihak lain.
Polarisasi bisa membuat perbedaan pandangan menjadi lebih tajam, sering kali menyebabkan konflik, ketegangan, atau perpecahan sosial.
Dalam konteks pembelajaran atau diskusi, polarisasi opini dapat terjadi ketika individu lebih fokus pada mempertahankan keyakinannya sendiri, bahkan sampai mengabaikan fakta atau data objektif.
Hal ini bisa mempersulit dialog yang sehat dan terbuka, membuat orang menjadi kurang mau mendengarkan pandangan berbeda dan lebih mudah terjebak dalam sikap defensif atau fanatisme.
Polarisasi ini dapat menghambat proses belajar mengajar yang produktif.
Misalnya, ketika topik kontroversial dibahas dalam konteks pembelajaran, perbedaan opini siswa dapat menyebabkan perdebatan yang tidak sehat, terutama jika mereka hanya berpegang pada informasi yang emosional atau bias, tidak mendasarkan landasan berpikirnya pada data dan fakta.
3. Mengurangi Kepercayaan pada Sumber Tepercaya dan Mengganggu Fokus Pembelajaran
Era post-truth sering kali memunculkan skeptisisme berlebihan terhadap sumber informasi yang seharusnya tepercaya, seperti jurnal ilmiah, buku teks, atau media pendidikan. J
ika siswa terpengaruh oleh narasi bahwa semua informasi bisa dipertanyakan atau dianggap bias, mereka mungkin menjadi sulit mempercayai materi pelajaran, termasuk materi yang sebetulnya didasarkan pada fakta dan bukti ilmiah.
Ketidakpercayaan ini dapat memperlambat proses pembelajaran, karena siswa cenderung lebih banyak membuang waktu untuk meragukan sumber daripada memahami isi materi.
Ketidakmampuan siswa untuk membedakan antara fakta dan opini atau membedakan informasi yang benar dan salah dapat mengganggu proses pembelajaran bahasa Inggris.
Siswa mungkin lebih fokus pada isu emosional daripada tujuan utama pembelajaran.
4. Memperkuat Bias Kognitif
Dalam era post-truth, emosi dan keyakinan pribadi sering kali lebih diutamakan daripada fakta objektif. Siswa mungkin mempercayai informasi yang sesuai dengan pandangan mereka dan menolak informasi yang bertentangan, tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.
Bias ini dapat menghambat pembelajaran bahasa Inggris yang membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai sumber dan budaya.
Dalam pembelajaran bahasa, mengenal perspektif berbeda sangat penting untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi lintas budaya.
5. Kesulitan dalam Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis
Meskipun era post-truth dapat menjadi peluang untuk melatih keterampilan berpikir kritis, tantangan juga muncul ketika siswa tidak memiliki alat atau pengetahuan yang cukup untuk memverifikasi informasi.
Proses pembelajaran yang seharusnya mendorong keterbukaan dan pembelajaran berbasis fakta bisa tergantikan oleh emosi dan keyakinan subjektif yang tidak diverifikasi.
Jika siswa tidak diajarkan cara menilai keakuratan informasi, mereka dapat dengan mudah menjadi korban disinformasi. Maka, guru perlu mempunyai pengetahuan tentang cara menilai keakuratan informasi dan selanjutnya mengajarkannya ke siswanya.
Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi dampak negatif Post-Truth dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Langkah-langkah tersebut antara lain:
1. Peningkatan Literasi Informasi
Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa mengembangkan literasi informasi. Siswa perlu diajarkan cara mengevaluasi dan memverifikasi informasi dari sumber berbahasa Inggris, menggunakan situs pemeriksa fakta, dan mencari sumber tepercaya.
2. Penggunaan Sumber Terpercaya
Dalam pembelajaran, guru dapat memilih materi dari sumber yang kredibel seperti artikel dari media tepercaya, buku akademik, atau konten profesional lainnya. Hal ini membantu memastikan siswa menerima informasi yang valid.
3. Fasilitasi Diskusi Sehat dan Terarah
Guru bisa memfasilitasi diskusi kelas tentang perbedaan antara fakta dan opini serta cara informasi dapat dimanipulasi.
Siswa dapat belajar untuk membedah berita palsu dan mempraktikkan keterampilan debat yang sehat, berbasis data, dan berbasis fakta.
Guru perlu mendorong diskusi berbasis data dan fakta, bukan emosi, untuk menciptakan lingkungan belajar yang terbuka tetapi tetap kritis.
4. Pembelajaran Kontekstual
Mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks lokal dan global dapat membantu siswa memahami pentingnya mengevaluasi informasi. Pembelajaran kontekstual ini melatih mereka untuk tidak hanya menerima informasi secara mentah-mentah, tetapi juga mempertanyakan dan menganalisisnya.
5. Peningkatan Kesadaran terhadap Bias
Melatih siswa untuk mengenali bias kognitif mereka dan memahami bahwa kebenaran objektif memerlukan bukti adalah langkah penting dalam menghadapi tantangan era post-truth.
Era post-truth membawa tantangan dan peluang dalam pembelajaran bahasa Inggris. Disini peran guru sangat dibutuhkan agar siswa “selamat” dan mampu menjadi sosok yang cerdas dalam menghadapi berbagai informasi yang tersaji. Dengan bimbingan yang tepat, siswa dapat menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis, serta lebih mampu membedakan antara fakta dan opini dalam pembelajaran bahasa Inggris dan kehidupan sehari-hari.