Discourse Analysis (DA) vs Critical Discourse Analysis (CDA) in ELT

Discourse Analysis (DA) dan Critical Discourse Analysis (CDA) adalah dua pendekatan dalam analisis bahasa yang memiliki beberapa kesamaan, tetapi berbeda dalam fokus dan tujuannya.
Secara garis besar, DA meneliti bagaimana bahasa digunakan dalam konteks untuk menyampaikan makna tertentu, sementara CDA melangkah lebih dalam dengan mengkaji bagaimana bahasa berhubungan dengan kekuasaan, ideologi, dan ketidaksetaraan sosial.
DA dan CDA memiliki peran penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris karena keduanya mengajarkan mahasiswa untuk memahami bahasa dalam konteksnya. Namun, CDA membawa perspektif tambahan, yakni kesadaran kritis terhadap bagaimana bahasa digunakan dalam struktur kekuasaan dan ketidaksetaraan, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar memahami bahasa tetapi juga menjadi lebih kritis terhadap teks yang mereka temui.
1. Discourse Analysis (DA
· Fokus pada pemahaman konteks bahasa dan bagaimana makna dibentuk melalui pilihan kata, struktur kalimat, serta gaya bahasa.
· Menganalisis interaksi bahasa dalam berbagai konteks sosial tanpa secara eksplisit menyoroti isu-isu kekuasaan atau ideologi.
Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Inggris, mahasiswa dapat menggunakan DA untuk memahami bagaimana bahasa formal dan informal digunakan dalam situasi berbeda seperti wawancara kerja atau percakapan sehari-hari.
Contoh DA dalam Konteks Pembelajaran Bahasa Inggris (ELT)
Dalam kelas Bahasa Inggris, dosen memberikan teks percakapan antara dua orang, misalnya dalam situasi wawancara kerja.
Dengan DA, mahasiswa bisa menganalisis bahasa yang digunakan, termasuk formalitas, sopan santun, dan pola komunikasi yang menunjukkan rasa hormat atau profesionalisme.
Disini, mahasiswa belajar bagaimana menggunakan bahasa secara tepat sesuai dengan konteks situasi formal.
2. Critical Discourse Analysis (CDA)
· CDA memiliki pendekatan kritis, mengkaji bagaimana bahasa dapat merefleksikan atau menguatkan ketidaksetaraan sosial, kekuasaan, atau ideologi.
· Pendekatan ini melihat bagaimana struktur bahasa dapat memperkuat posisi pihak tertentu dalam masyarakat, seperti media yang menampilkan berita dengan sudut pandang tertentu.
Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Inggris, CDA bisa digunakan untuk menganalisis teks berita atau artikel opini di mana siswa diajak untuk melihat bagaimana pemilihan kata tertentu mencerminkan bias atau perspektif politik.
Contoh CDA dalam Konteks Pembelajaran Bahasa Inggris (ELT)
Dosen memberikan artikel berita dari dua media berbeda yang meliput topik yang sama, misalnya tentang kebijakan pendidikan.
Dengan CDA, mahasiswa bisa menganalisis bagaimana masing-masing media menggunakan bahasa untuk menyampaikan sudut pandang yang berbeda.
Misalnya, satu artikel mungkin menekankan “tantangan” dalam kebijakan tersebut, sementara artikel lain menyoroti “peluang”.
Disini, CDA membantu mahasiswa memahami bagaimana bahasa dapat digunakan untuk membentuk opini publik atau menyoroti aspek tertentu dalam isu yang kompleks.