Digital Natives vs Digital Immigrants
Dalam era digital saat ini, kita sering
mendengar istilah digital natives dan digital immigrants. Dua istilah
ini diperkenalkan oleh Marc Prensky dalam artikel berjudul “Digital Natives,
Digital Immigrants” yang diterbitkan pada tahun 2001. Prensky berargumen bahwa
perbedaan dalam cara belajar antara digital natives dan digital
immigrants mempengaruhi pilihan metode pembelajaran. Digital natives
cenderung belajar lebih baik melalui pengalaman interaktif, sedangkan digital
immigrants mungkin lebih memilih pendekatan yang lebih konvensional.
DIGITAL NATIVES
Digital Natives merujuk pada generasi yang
lahir dan tumbuh di dunia digital, di tengah pesatnya perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi, sehingga mereka terbiasa dengan gadget, internet, dan
media sosial sejak usia dini. Mereka terbiasa mengandalkan teknologi dalam
hampir setiap aspek kehidupan mereka. Misalnya, cenderung menggunakan
smartphone, media sosial, dan aplikasi online sebagai bagian dari rutinitas
sehari-hari mereka.
Beberapa ciri khas dari digital natives
antara lain:
1. Pengalaman Awal dengan Teknologi:
Mulai menggunakan komputer, ponsel, dan
internet saat masih anak-anak, bahkan saat masih balita.
2. Keterampilan Teknologi:
Cenderung lebih cepat memahami dan
menggunakan teknologi baru, dan secara natural mudah beradaptasi dengan
berbagai fitur teknologi yang tersedia saat ini.
3. Kebiasaan Berkomunikasi:
Lebih suka berkomunikasi melalui pesan teks,
media sosial, dan video, dibandingkan dengan cara tradisional seperti menelepon
atau bertemu langsung.
DIGITAL IMMIGRANTS
Digital Immigrants adalah orang-orang yang lahir sebelum sebelum era digital. Mereka
mengalami transisi dari era pra-digital ke era digital dan umumnya tidak
terlalu akrab dengan teknologi jika dibandingkan dengan digital natives.
Kelompok ini mengadopsi teknologi ketika mereka sudah dewasa. Mereka mungkin
merasa nyaman menggunakan teknologi, tetapi cara mereka belajar dan
berinteraksi dengan teknologi sering kali berbeda dari digital natives.
Ciri-ciri digital immigrants antara lain:
1. Adopsi Teknologi yang Terlambat:
Mulai menggunakan teknologi yang tersedia
saat ini setelah dewasa, sehingga proses belajar dan penguasaan teknologi
mereka sering kali lebih lambat.
2. Keterampilan yang Beragam:
Meskipun banyak dari mereka yang kini mahir
dalam menggunakan teknologi, kemungkinan untuk memilih metode konvensional
dalam belajar dan mengajar cukup besar.
3. Kebiasaan Berkomunikasi:
Cenderung lebih nyaman dengan komunikasi
langsung atau melalui telepon dibandingkan dengan penggunaan pesan teks atau
media sosial.
Dalam konteks belajar dan mengajar bahasa
Inggris, perbedaan ini dapat terlihat jelas. Berikut adalah beberapa contoh
interaksi antara digital natives dan digital immigrants dengan
teknologi ketika mereka belajar bahasa Inggris:
1.
Moda Pembelajaran (online/offline)
Digital
Natives
Sering
menggunakan platform pembelajaran online seperti Duolingo atau aplikasi
berbasis game untuk belajar bahasa Inggris. Mereka mungkin lebih suka
menggunakan video pembelajaran dan tutorial YouTube yang interaktif.
Digital
Immigrants
Ada
kecenderungan lebih suka mengikuti kursus bahasa Inggris secara tatap muka atau
menggunakan buku teks sebagai bahan ajar. Namun, mereka tetap mengadopsi
beberapa elemen digital, seperti menggunakan email untuk berkomunikasi dengan
guru dan siswa.
2.
Media Sosial dalam Pembelajaran
Digital
Natives
Memanfaatkan
media sosial untuk berlatih bahasa Inggris, seperti berkomentar di postingan
atau berpartisipasi dalam grup belajar online. Mereka bisa jadi lebih terbuka
untuk menggunakan slang dan bahasa gaul yang banyak muncul di platform-platform
tersebut.
Digital
Immigrants
Menggunakan
media sosial untuk berbagi informasi atau artikel tentang bahasa Inggris,
tetapi tidak terlalu aktif dalam berinteraksi atau menggunakan bahasa Inggris
sehari-hari di platform tersebut.
3.
Penggunaan Perangkat dan Platform Digital
Digital
Natives
Saat menjadi
pengajar, mereka cenderung menggunakan perangkat digital, seperti presentasi interaktif atau
aplikasi pembelajaran bahasa, yang membuat kelas lebih menarik dan
menyenangkan. Keberadaan Artificial Intelligence (AI) juga memudahkan
para digital natives untuk bereksplorasi dalam menyiapkan materi ajar, memandu
proses belajar mengajar di kelas, maupun melakukan asesmen.
Digital
Immigrants
Masih ada
kecenderungan mengajar secara tradisional meski sudah berusaha mengintegrasikan
teknologi, seperti menggunakan proyektor atau video, untuk mendukung pengajaran
mereka. Perangkat digital yang tersedia saat ini dirasa memiliki fitur dan
perintah yang rumit sehingga para digital immigrants, terutama yang mengalami
kesulitan beradaptasi dengan teknologi, cenderung memilih menghindari penggunaannya
dan bekerja secara konvensional. Memaksakan diri menggunakan teknologi yang
fiturnya dirasa membingungkan menimbulkan kelelahan (burn out) pada diri
digital immigrants.
Dengan menyadari perbedaan digital natives
dan digital immigrants dari sisi cara belajar dan cara berinteraksi
dengan teknologi, adanya kesenjangan di antara dua kelompok ini diharapkan
dapat dipahami dan tumbuh rasa saling menghormati di antara dua generasi tersebut.
Para digital natives bisa mengajarkan cara
pemanfaatan teknologi kepada para digital immigrants yang ada di sekitar
mereka. Selain itu, pelatihan pemanfaatan teknologi bagi para digital
immigrants pun bisa diperbanyak sehingga mereka lebih nyaman dalam memanfaatkan
teknologi untuk mendukung proses belajar yang lebih baik.