Burnout pada Mahasiswa: Penyebab dan Solusinya

Tanggal 10 Oktober diperingati sebagai hari kesehatan mental (mental health) sedunia. Dalam dunia yang semakin global dan digital ini, isu mental health semakin sering dibicarakan. Salah satu isu yang sering muncul adalah burnout.
Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi akibat tekanan berkepanjangan. Burnout bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan kelelahan yang lebih dalam yang berdampak hilangnya motivasi dan semangat untuk belajar atau menjalani aktivitas sehari-hari.
Penyebab Burnout pada Mahasiswa
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap burnout pada mahasiswa antara lain:
1. Beban Akademik yang Tinggi
Mahasiswa sering menghadapi jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, serta tekanan dari ujian. Kombinasi ini membuat mereka merasa kewalahan dan terjebak dalam siklus stres yang berkepanjangan.
2. Kurangnya Manajemen Waktu
Ketidakmampuan dalam mengatur waktu antara studi, kegiatan kemahasiswaan, pekerjaan, dan aktivitas sosial dapat menyebabkan mahasiswa kehabisan energi. Ketika tugas menumpuk dan tidak ada waktu istirahat yang memadai, risiko burnout meningkat.
3. Tekanan Sosial dan Ekspektasi Diri
Mahasiswa sering kali merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi orang tua, dosen, dan lingkungan sekitarnya. Mereka berusaha keras mencapai prestasi akademik, tetapi di saat yang sama, juga ingin mempertahankan kehidupan sosial yang aktif.
4. Kehidupan Pribadi yang Tidak Seimbang
Mahasiswa yang tidak mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan akademik dan pribadi sering kali mengalami burnout. Kurangnya waktu untuk diri sendiri, hobi, atau istirahat dapat memicu kelelahan emosional.
Solusi untuk Mengatasi Burnout
Mengatasi burnout memerlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan dukungan dari berbagai pihak dan juga upaya dari mahasiswa yang mengalami burnout.
Berikut ini beberapa solusinya:
1. Manajemen Waktu yang Baik
Mahasiswa perlu belajar mengatur jadwal dengan lebih efisien, memprioritaskan tugas-tugas penting, dan menyediakan waktu untuk istirahat dan relaksasi.
2. Komunikasi dengan Orang Terdekat
Bicarakan dengan teman, keluarga, atau konselor kampus ketika merasa tertekan. Mendapatkan dukungan emosional dapat membantu mengurangi beban yang dirasakan.
3. Melibatkan Diri dalam Aktivitas Non-Akademik
Jika selama ini hanya fokus pada kegiatan akademik, maka perlu melakukan kegiatan yang menyenangkan di luar studi, seperti olahraga, seni, hobi, atau kegiatan sosial. Kegiatan studi ini diharapkan dapat membantu meredakan stres dan memberikan waktu untuk “mengisi ulang” energi.
4. Mindfulness dan Relaksasi
Sholat (bagi yang muslim), berdoa, meditasi, yoga, atau teknik relaksasi lainnya bisa menjadi cara yang efektif untuk menenangkan pikiran dan tubuh. Hal ini membantu mahasiswa menghadapi tekanan dengan lebih tenang.
Penting untuk mengingat bahwa tidak semua yang direncanakan dan diupayakan selalu bisa berjalan sesuai ekspektasi. Mahasiswa perlu belajar untuk tenang menghadapi ketidaksesuaian itu, dan kompromi dengan kondisi yang ada.
Peran Orang Tua, Kampus, dan Keyakinan Agama dalam Mengatasi Burnout
Sudah selayaknya burnout pada mahasiswa perlu ditangani dengan serius karena dampaknya dapat memengaruhi kinerja akademik dan kesejahteraan mental. Dengan dukungan yang tepat dari orang tua, kampus, dan keyakinan agama, serta penerapan manajemen diri yang baik, mahasiswa dapat mengatasi burnout dan kembali menjalani studi dengan lebih sehat dan produktif.
Peran Orang Tua
Orang tua memiliki peran penting dalam mendukung anak mereka. Komunikasi yang terbuka dan dukungan emosional dari orang tua dapat membuat mahasiswa merasa lebih didukung dan dipahami. Dukungan ini juga berupa apresiasi terhadap karya dan usaha putra-putri mereka.
Orang tua juga dapat membantu dengan cara mengurangi ekspektasi berlebihan yang membebani anaknya dan mendorong mereka untuk menjaga keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi. Dalam hal ini, orang tua juga perlu membantu anaknya untuk bisa kompromi terhadap kekurangsempurnaan dalam menyelesaikan suatu rencana.
Orang tua juga bisa membantu mengingatkan dan mengajak putra-putrinya untuk menyeimbangkan kehidupan akademik, kehidupan pribadi, dan kehidupan sosial. Akan lebih baik jika orang tua bisa menjadi contoh bagi putra putri mereka.
Peran Kampus
Kampus dapat memberikan dukungan dengan menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa yang mengalami stres dan burnout.
Selain itu, kampus juga bisa menciptakan lingkungan akademik yang lebih ramah, seperti kebijakan yang mendukung kesehatan mental mahasiswa, misalnya melalui penjadwalan kelas dan ujian yang tidak terlalu padat, serta mengadakan kegiatan yang membantu menjaga keseimbangan antara studi, kehidupan pribadi, dan sosial.
Peran Keyakinan Agama
Keyakinan agama juga dapat menjadi sumber kekuatan bagi mahasiswa yang mengalami burnout. Banyak mahasiswa menemukan ketenangan dan harapan melalui praktik keagamaan seperti sholat, berdoa, meditasi spiritual, atau menghadiri kegiatan keagamaan. Agama memberikan pandangan bahwa segala tantangan bisa dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan, yang membantu meredakan kecemasan dan stres.