Pekerjaan Masa Depan untuk Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris
Coba tanyakan kepada orang tua kita, pekerjaan apa yang mereka kenal ketika masih muda. Mungkin jawabannya akan berbeda dengan pekerjaan yang kita kenal sekarang.
Dulu ada juru ketik, operator telepon, pengantar telegram, teknisi mesin tik, atau penjaga loket tol. Pekerjaan-pekerjaan itu pernah sangat biasa. Sekarang sebagian sudah hilang, sebagian lain berubah bentuk.
Penyebabnya sederhana: teknologi mengubah cara manusia bekerja.
Hal yang sama sedang terjadi sekarang. Bedanya, perubahan kali ini berlangsung jauh lebih cepat. Artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan teknologi digital mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan.
Menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, sampai 2030 diperkirakan ada sekitar 170 juta pekerjaan baru yang tercipta, sementara sekitar 92 juta pekerjaan terdampak displacement. Jadi, masa depan bukan hanya tentang pekerjaan yang hilang. Ada banyak pekerjaan baru yang akan muncul. Masalahnya, sebagian dari pekerjaan itu mungkin belum kita kenal sekarang.
Lalu, bagaimana dengan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris?
Ketika AI Bisa Mengajar Bahasa Inggris, AI sekarang sudah bisa menerjemahkan, memperbaiki grammar, membuat latihan, menghasilkan teks, bahkan menjadi teman bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.
Wajar kalau kemudian muncul pertanyaan: kalau AI bisa melakukan semua itu, apakah guru bahasa Inggris masih dibutuhkan?
Kemungkinan besar, iya.
Yang berubah adalah pekerjaannya.
Guru mungkin tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu membuat latihan grammar yang sederhana. AI bisa membantu membuatnya. Guru juga bisa menggunakan AI untuk membuat variasi dialog, memberikan contoh tulisan, atau menyediakan bahan latihan sesuai level siswa.
Waktu guru kemudian bisa digunakan untuk hal yang lebih penting: memahami siswa, memberikan arahan, membangun kepercayaan diri, mengelola interaksi kelas, dan membuat keputusan tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan siswa.
UNESCO sendiri melihat guru tetap memiliki peran penting dalam penggunaan AI di pendidikan dan telah mengembangkan kerangka kompetensi AI khusus untuk guru. Kerangka tersebut mencakup penggunaan AI, pedagogi, etika, dan pengembangan profesional.
Jadi, mungkin yang akan berubah bukan keberadaan guru bahasa Inggris, melainkan jenis pekerjaan yang dilakukan guru.
Dari Sini, Pekerjaan Baru Bisa Muncul
Bayangkan sebuah sekolah ingin menggunakan AI untuk latihan speaking.
Mereka membutuhkan orang yang tahu cara membuat AI menjadi partner percakapan yang baik untuk siswa. Bukan sekadar membuat AI bisa berbicara, tetapi menentukan kapan AI harus memperbaiki kesalahan, kapan harus membiarkan siswa melanjutkan percakapan, dan bagaimana memberikan feedback yang sesuai.
Di sinilah bisa muncul pekerjaan seperti AI-Assisted English Learning Designer atau Human-AI Conversation Designer.
Nama tersebut mungkin belum menjadi jabatan umum di sekolah. Tetapi pekerjaannya sangat mungkin dibutuhkan.
Contoh lain adalah orang yang bertugas memeriksa materi yang dibuat AI. Apakah bahasanya benar? Apakah tingkat kesulitannya sesuai? Apakah contoh yang digunakan cocok dengan konteks siswa? Apakah feedback AI benar-benar membantu?
Ini bisa menjadi wilayah kerja baru bagi orang yang menguasai bahasa Inggris, pedagogi, sekaligus AI.
Ada pula kebutuhan untuk membantu guru menggunakan AI. Bukan sekadar mengajari mereka membuka chatbot, tetapi membantu mereka menentukan kapan AI layak digunakan, bagaimana membuat materi dengan AI, bagaimana memeriksa hasilnya, dan bagaimana tetap menjaga integritas akademik.
Dengan kata lain, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris mungkin suatu hari tidak hanya bekerja sebagai guru atau dosen. Mereka bisa bekerja di wilayah yang sekarang masih berada di antara pendidikan, bahasa, dan teknologi.
Mahasiswa Perlu Bersiap, Tetapi Kebijakan Juga Harus Bergerak
Tentu saja, mahasiswa tidak bisa dibebani dengan pesan sederhana,
“Kalian harus belajar AI.”
Yang perlu dipikirkan adalah AI dipelajari untuk melakukan apa.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, misalnya, bisa diberi proyek membuat AI speaking partner, mengembangkan bahan ajar digital, menguji penggunaan AI untuk writing feedback, atau menganalisis apakah materi yang dihasilkan AI sesuai dengan kebutuhan pembelajar.
Untuk melakukan itu, mereka tetap membutuhkan kemampuan bahasa dan pedagogi. Mereka juga perlu belajar teknologi, kreativitas, data, desain, dan kemampuan bekerja dengan orang lain.
Namun, tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan mahasiswa.
Pembuat kebijakan dan perguruan tinggi juga harus membuka jalannya.
Kurikulum perlu memberi ruang untuk pembelajaran tentang AI dan teknologi pendidikan. Program studi dapat mengembangkan proyek bersama antara Pendidikan Bahasa Inggris, Informatika, Desain, atau bidang lain. Guru dan dosen perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mencoba teknologi baru secara berkelanjutan, bukan hanya mengikuti seminar singkat.
Pemerintah juga perlu memikirkan aturan mainnya. Jika siswa menggunakan AI untuk belajar speaking, misalnya, siapa yang menyimpan data percakapan mereka? Jika AI memberikan feedback yang salah, siapa yang memeriksanya? Bagaimana dengan copyright materi yang digunakan?
Pertanyaan seperti ini sudah mulai menjadi perhatian UNESCO. Dalam panduannya tentang generative AI, UNESCO menekankan pentingnya perlindungan data, penggunaan AI yang etis, serta pendekatan yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan.
Jangan Menunggu Pekerjaannya Ada
Mungkin ini bagian yang paling penting.
Kita sering meminta mahasiswa memilih pekerjaan yang jelas: guru, dosen, translator, tutor, atau content writer.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi dunia kerja bergerak lebih cepat daripada daftar pekerjaan yang ada di brosur penerimaan mahasiswa.
Sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, mungkin akan ada pekerjaan yang sekarang terdengar aneh. Bisa jadi ada orang yang pekerjaannya khusus mengevaluasi output AI untuk pembelajaran bahasa. Bisa jadi ada profesi yang membantu sekolah merancang interaksi siswa dengan AI. Bisa jadi muncul pekerjaan lain yang bahkan sekarang belum terpikirkan.
Kita tidak perlu menebak nama pekerjaan tersebut.
Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan orang yang mampu beradaptasi ketika pekerjaan itu muncul.
Untuk Pendidikan Bahasa Inggris, ini berarti kita tidak cukup hanya bertanya,
“Bagaimana menyiapkan mahasiswa menjadi guru bahasa Inggris?”
Pertanyaannya perlu diperluas:
“Bagaimana menyiapkan mahasiswa agar mampu menciptakan dan mengisi pekerjaan yang belum ada?”
Karena bisa jadi, pekerjaan masa depan belum tersedia di portal lowongan kerja.
Pekerjaan itu mungkin sedang menunggu seseorang untuk menciptakannya.