Menembus Batas Kelas: Kisah Mahasiswa UNESA Menjalani Teaching Assistant di Thailand
Kesempatan belajar tidak selalu datang dalam bentuk perkuliahan di ruang kelas. Bagi Brian Abdigama Putra, mahasiswa UNESA dengan NIM 24020084104, proses belajar justru berlangsung ketika ia harus meninggalkan Indonesia dan mengajar di sekolah di Songkhla, Thailand.
Melalui UNESA School Teaching Assistant Program 2026 in Songkhla, Thailand, Brian mendapatkan kesempatan untuk mengajar, berinteraksi dengan guru dan siswa setempat, sekaligus mengenal sistem pendidikan serta budaya Thailand secara langsung.
Program yang diselenggarakan melalui UNESA Global Engagement (UGE) tersebut menjadi pengalaman internasional yang mempertemukan kompetensi kependidikan dengan pengalaman lintas budaya.
Dua Bulan Mengajar di Thailand
Program Teaching Assistant di Songkhla berlangsung sekitar dua bulan dan merupakan salah satu dari dua periode program yang diselenggarakan setiap tahun.
Menurut Brian, program biasanya terbagi dalam dua batch. Batch pertama yang berlangsung pada musim panas lebih banyak diarahkan untuk kegiatan PLP, sedangkan batch musim gugur lebih berfokus pada Teaching Assistant Program.
Selama berada di Thailand, mahasiswa peserta program tidak hanya berperan sebagai pengajar Bahasa Inggris.
Mereka juga dapat mengajar mata pelajaran lain, seperti Matematika dasar atau Sains, sesuai dengan kebutuhan sekolah dan kemampuan masing-masing peserta.
Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada aktivitas mengajar.
Para peserta juga berkesempatan mengamati secara langsung bagaimana sekolah di Thailand menerapkan kurikulum dan metode pembelajaran yang berbeda dengan praktik pendidikan di Indonesia.
Bagi calon guru, pengalaman semacam ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa praktik pendidikan dapat memiliki bentuk yang beragam, tergantung pada konteks budaya, kurikulum, dan karakteristik peserta didik.
Belajar dari Guru-Guru Thailand
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Brian adalah interaksinya dengan para guru di sekolah tempat ia menjalankan program.
Selama program berlangsung, ia membangun relasi yang baik dengan guru-guru setempat sekaligus mempelajari berbagai metode pembelajaran baru.
Tidak hanya metode mengajar, Brian juga mendapatkan pengalaman dalam mengembangkan media pembelajaran dan teaching aids yang menarik bagi siswa.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menjadi guru tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga kreativitas dalam menyajikan pembelajaran.
Bagi mahasiswa pendidikan, kesempatan untuk melihat praktik guru secara langsung menjadi pengalaman yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pembelajaran di kampus.
Ketika Kemampuan Bahasa Inggris Benar-Benar Diuji
Berada di lingkungan internasional juga membuat kemampuan Bahasa Inggris Brian mendapatkan tantangan baru.
Jika sebelumnya Bahasa Inggris banyak digunakan dalam konteks akademik dan pembelajaran, di Thailand bahasa tersebut digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan masyarakat lokal.
Salah satu tantangannya adalah perbedaan aksen.
Brian mengakui bahwa memahami Bahasa Inggris yang digunakan oleh masyarakat lokal tidak selalu mudah pada awalnya. Perbedaan pengucapan dan gaya komunikasi membuatnya harus belajar mendengarkan dengan lebih cermat.
Namun, justru dari situlah kemampuan komunikasinya berkembang.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi Bahasa Inggris dalam konteks internasional tidak hanya berkaitan dengan grammar, vocabulary, atau kemampuan berbicara. Kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai aksen dan gaya komunikasi juga menjadi bagian penting dari kompetensi komunikasi.
Dengan kata lain, pengalaman di Thailand menjadi semacam "ujian lapangan" bagi kemampuan Bahasa Inggris yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.
Mengenal Thailand dari Dekat
Selain mendapatkan pengalaman di sekolah, Brian juga memiliki kesempatan untuk mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Thailand secara langsung.
Interaksi dengan masyarakat lokal memberinya kesempatan untuk mempelajari beberapa kosakata dasar Bahasa Thailand sekaligus memahami cara masyarakat setempat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman budaya tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari program.
Dan tentu saja, ada satu pengalaman yang tidak boleh dilewatkan: menikmati Thai tea langsung di negara asalnya.
Bagi Brian, pengalaman tersebut mungkin sederhana, tetapi menjadi salah satu kenangan menarik selama mengikuti program.
Di luar kegiatan sekolah, peserta juga memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai tempat dan mengenal lebih jauh budaya Thailand.
Ada Tantangan yang Tidak Diperkirakan
Di balik pengalaman menyenangkan tersebut, program ini juga menghadirkan sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah masa persiapan yang relatif singkat dan cukup intensif.
Karena itu, peserta perlu memastikan berbagai kebutuhan telah dipersiapkan sejak awal, mulai dari dokumen perjalanan hingga kesiapan mengajar.
Tantangan lainnya adalah tuntutan untuk dapat berkomunikasi secara efektif dalam Bahasa Inggris.
Kemampuan berbicara Bahasa Inggris saja belum tentu cukup. Peserta harus mampu memahami lawan bicara yang memiliki aksen berbeda serta menyesuaikan cara berkomunikasi dengan konteks setempat.
Kemampuan adaptasi akhirnya menjadi salah satu modal penting selama mengikuti program.
Thailand dan Pengalaman Hidup yang Berbeda
Brian juga menemukan sejumlah hal menarik dalam kehidupan sehari-hari di Thailand.
Menurutnya, biaya hidup di beberapa wilayah relatif terjangkau sehingga Thailand dapat menjadi tempat yang nyaman untuk menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih santai.
Bagi mahasiswa Muslim, ketersediaan komunitas Muslim dan makanan halal juga menjadi salah satu hal yang cukup membantu.
Peserta dapat menanyakan secara langsung apakah suatu makanan halal, dan masyarakat lokal umumnya dapat memahami pertanyaan tersebut.
Hal kecil lainnya yang menarik perhatian Brian adalah persepsi terhadap waktu.
Meskipun waktu pada jam menunjukkan angka yang sama seperti di Indonesia, kondisi pencahayaan pada sore hari dapat terasa berbeda.
Sekitar pukul 18.00, misalnya, suasana masih dapat terlihat cukup terang.
Pengalaman-pengalaman kecil semacam ini menjadi bagian dari proses adaptasi ketika seseorang tinggal di lingkungan baru.
Siapa yang Bisa Mengikuti Program?
Program ini ditujukan bagi mahasiswa UNESA yang telah memasuki semester lima atau lebih dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Beberapa persyaratan yang perlu dipersiapkan antara lain:
- Sertifikat kemampuan Bahasa Inggris yang memenuhi nilai minimum, seperti TOEFL, IELTS, Duolingo, UNESA TEP, atau tes lain yang diakui.
- Paspor.
- Izin orang tua.
- IPK yang baik.
- Tidak sedang mengikuti program atau kegiatan aktif lain yang berpotensi berbenturan dengan program.
- Kemampuan mengajar dan classroom management yang baik.
- Kemampuan microteaching yang memadai.
- Persetujuan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) atau program studi, terutama apabila kegiatan akan dikonversikan ke dalam SKS.
Khusus mengenai persyaratan, calon peserta tetap perlu memperhatikan informasi resmi dari UGE karena ketentuan dapat berbeda pada setiap periode pelaksanaan.
Bukan Sekadar Program ke Luar Negeri
Bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti program serupa, Brian menyarankan agar persiapan tidak hanya berfokus pada dokumen administratif.
Kemampuan Bahasa Inggris, terutama komunikasi lisan dan listening, perlu dipersiapkan dengan baik.
Kemampuan mengajar juga menjadi modal utama. Mahasiswa perlu menguasai microteaching, classroom management, serta kemampuan membuat media pembelajaran yang menarik.
Namun, ada satu kemampuan lain yang tidak kalah penting: survival dan exploration skills.
Berada di negara lain berarti menghadapi banyak hal yang belum familiar. Peserta harus siap bertanya, mencoba, mencari solusi, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Dari Ruang Kelas UNESA ke Sekolah di Thailand
Pengalaman Brian di Songkhla menunjukkan bahwa program internasional bagi mahasiswa bukan semata-mata tentang kesempatan bepergian ke luar negeri.
Ada proses pembelajaran yang jauh lebih besar di dalamnya.
Mahasiswa calon guru mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan mengajar dalam konteks yang berbeda, mempelajari sistem pendidikan lain, berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dengan masyarakat internasional, dan memahami bahwa praktik pendidikan sangat dipengaruhi oleh konteks budaya.
Pada akhirnya, pengalaman menjadi teaching assistant di Thailand membawa Brian pada satu pelajaran penting: untuk menjadi guru yang lebih baik, seorang calon guru juga harus bersedia menjadi pembelajar di lingkungan yang baru.
Dari Songkhla, pengalaman tersebut tidak hanya membawa pulang cerita tentang sekolah, budaya, dan Thai tea. Ia juga membawa perspektif baru tentang pendidikan, komunikasi, dan pentingnya kemampuan beradaptasi di tengah dunia yang semakin terhubung.
Teaching, it turns out, has no borders.