Cara Menemukan Masalah Penelitian dan Merumuskannya Menjadi Research Questions
Salah satu tantangan terbesar bagi mahasiswa, guru, dosen, maupun peneliti pemula bukanlah melakukan penelitian, melainkan menemukan masalah penelitian yang layak diteliti. Banyak orang memiliki topik yang menarik, tetapi belum tentu memiliki research problem yang jelas. Akibatnya, penelitian menjadi terlalu luas, tidak fokus, atau bahkan tidak memiliki kontribusi ilmiah yang nyata.
Padahal, penelitian yang baik selalu dimulai dari masalah penelitian (research problem) yang dirumuskan secara tepat. Setelah masalah penelitian ditemukan, langkah berikutnya adalah mengubahnya menjadi research questions yang spesifik, terukur, dan dapat dijawab melalui penelitian.
Artikel ini membahas langkah-langkah praktis untuk menemukan masalah penelitian dan merumuskannya menjadi pertanyaan penelitian yang berkualitas.
Apa Itu Research Problem?
Research problem adalah kesenjangan (gap), fenomena, tantangan, atau persoalan yang belum memiliki jawaban memadai berdasarkan penelitian sebelumnya sehingga memerlukan investigasi ilmiah.
Perlu dibedakan antara:
- Topik penelitian → area umum yang diminati.
- Masalah penelitian → persoalan spesifik dalam topik tersebut.
- Research question → pertanyaan yang akan dijawab untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Contohnya:
Topik
Artificial Intelligence dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Masalah
AI semakin banyak digunakan, tetapi belum diketahui bagaimana pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa EFL.
Research Question
How does the use of AI influence EFL students' critical thinking during writing activities?
Langkah 1. Mulailah dari Topik yang Anda Minati
Jangan langsung mencari judul penelitian.
Mulailah dengan bertanya:
- Apa bidang yang saya sukai?
- Mata kuliah apa yang paling menarik?
- Masalah apa yang sering saya lihat?
- Teknologi baru apa yang sedang berkembang?
Contoh bidang:
- Speaking
- Reading
- Vocabulary
- Pronunciation
- Grammar
- Assessment
- Artificial Intelligence
- Mobile Learning
- Motivation
- Teacher Feedback
Semakin Anda menyukai topiknya, semakin mudah Anda menyelesaikan penelitian.
Langkah 2. Amati Fenomena Nyata
Penelitian lahir dari dunia nyata.
Perhatikan hal-hal seperti:
- siswa mengalami kesulitan
- guru menghadapi tantangan
- kurikulum berubah
- teknologi berkembang
- kebiasaan belajar berubah
Contoh observasi:
Mahasiswa semakin sering menggunakan AI untuk mengerjakan tugas.
Fenomena ini belum tentu merupakan masalah penelitian.
Masalah muncul ketika kita bertanya:
- Apakah penggunaan AI meningkatkan kemampuan menulis?
- Apakah AI justru mengurangi kreativitas?
- Apakah mahasiswa menjadi terlalu bergantung?
Langkah 3. Baca Penelitian Sebelumnya
Literature review bukan sekadar mencari teori.
Tujuan utamanya adalah menemukan apa yang belum diketahui.
Saat membaca artikel, cari kalimat seperti:
- Future research should...
- Further studies are needed...
- Little is known...
- Few studies have examined...
- Limited evidence exists...
Kalimat-kalimat tersebut sering menunjukkan adanya research gap.
Langkah 4. Identifikasi Research Gap
Research gap adalah ruang kosong dalam pengetahuan ilmiah.
Beberapa jenis research gap yang umum adalah:
1. Population Gap
Penelitian sebelumnya dilakukan pada mahasiswa.
Belum pernah dilakukan pada siswa SMA.
2. Context Gap
Penelitian dilakukan di negara maju.
Belum dilakukan di Indonesia.
3. Methodological Gap
Penelitian sebelumnya menggunakan survei.
Belum ada penelitian eksperimen.
4. Variable Gap
Penelitian meneliti AI dan writing.
Belum meneliti AI dan critical thinking.
5. Time Gap
Penelitian dilakukan sebelum hadirnya teknologi AI generatif.
Situasi sekarang sudah berubah drastis.
Langkah 5. Rumuskan Masalah Penelitian
Masalah penelitian biasanya dapat ditulis dalam bentuk paragraf singkat.
Contoh:
Although AI has become increasingly common in EFL classrooms, little is known about how students actually use AI during collaborative writing activities. Most previous studies have focused on writing outcomes rather than the writing process itself.
Di sinilah letak masalah penelitian.
Langkah 6. Ubah Masalah Menjadi Research Questions
Research question adalah pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian.
Gunakan kata tanya seperti:
- What
- How
- Why
- To what extent
- In what ways
- Does
- Is there
- What are
Contoh Perubahan
Masalah
Mahasiswa menggunakan AI.
↓
Belum diketahui bagaimana mereka menggunakannya.
↓
Research Question
How do university students use AI during academic writing?
================================================
Masalah
AI mungkin meningkatkan speaking.
↓
Belum ada bukti eksperimen.
↓
Research Question
Does AI-assisted learning significantly improve EFL students' speaking performance?
=================================================
Masalah
Guru memberikan feedback.
↓
Belum diketahui feedback mana yang paling efektif.
↓
Research Question
Which type of teacher feedback most effectively improves students' writing accuracy?
==================================================
Langkah 7. Pastikan Research Question Memenuhi Kriteria FINER
Research question yang baik biasanya memenuhi prinsip FINER.
|
Kriteria |
Penjelasan |
|
Feasible |
Dapat dilakukan dengan waktu, biaya, dan sumber daya yang tersedia. |
|
Interesting |
Menarik bagi peneliti dan pembaca. |
|
Novel |
Memberikan kebaruan atau perspektif baru. |
|
Ethical |
Tidak melanggar etika penelitian. |
|
Relevant |
Memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan atau praktik. |
Langkah 8. Gunakan Framework yang Sesuai
Beberapa penelitian memerlukan kerangka tertentu.
Misalnya:
Penelitian Kuantitatif
- Independent Variable
- Dependent Variable
Contoh:
Does gamification improve vocabulary mastery?
Penelitian Kualitatif
Fokus pada pengalaman.
Contoh:
How do students perceive teacher feedback?
Mixed Methods
Menggabungkan keduanya.
Contoh:
To what extent does AI improve writing quality, and how do students perceive its use?
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan umum dalam merumuskan masalah penelitian adalah:
1. Terlalu Luas
How can English education be improved?
Terlalu umum.
2. Tidak Bisa Diteliti
Why is English difficult?
Pertanyaan ini terlalu filosofis dan tidak memiliki batasan yang jelas.
3. Mengandung Dua Pertanyaan Besar Sekaligus
How does AI improve writing and speaking and reading and motivation?
Lebih baik dipisahkan menjadi beberapa penelitian.
4. Sudah Mengandung Jawaban
Why is Project-Based Learning the best teaching method?
Kalimat tersebut sudah mengasumsikan jawabannya.
Contoh dari Bidang English Language Teaching (ELT)
Observasi
Mahasiswa menggunakan ChatGPT.
↓
Masalah
Belum diketahui bagaimana penggunaan ChatGPT memengaruhi proses revisi tulisan.
↓
Research Question
How does ChatGPT influence EFL students' revision strategies during academic writing?
======================================
Observasi
Guru menggunakan video TikTok.
↓
Masalah
Belum diketahui apakah media tersebut meningkatkan motivasi belajar.
↓
Research Question
To what extent does TikTok-based instruction improve students' learning motivation?
======================================
Observasi
Mahasiswa sering menerjemahkan secara otomatis.
↓
Masalah
Belum diketahui dampaknya terhadap perkembangan kosakata.
↓
Research Question
What is the relationship between AI translation use and vocabulary development among EFL learners?
Checklist Sebelum Menetapkan Research Questions
Sebelum memulai penelitian, tanyakan kepada diri Anda:
- Apakah saya benar-benar memiliki masalah penelitian, bukan hanya topik?
- Apakah masalah tersebut didukung oleh fenomena nyata atau hasil penelitian sebelumnya?
- Apakah terdapat research gap yang jelas?
- Apakah research question dapat dijawab melalui metode penelitian yang sesuai?
- Apakah ruang lingkup penelitian cukup spesifik?
- Apakah penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi baru bagi bidang yang saya teliti?
Jika semua jawaban adalah “ya”, maka Anda telah memiliki landasan yang kuat untuk menyusun proposal penelitian.
Menemukan masalah penelitian bukanlah proses mencari topik yang paling populer, melainkan mengidentifikasi sesuatu yang belum dipahami, belum terjawab, atau belum dijelaskan secara memadai.
Masalah penelitian yang baik lahir dari perpaduan antara observasi terhadap fenomena nyata, telaah kritis terhadap literatur, dan kemampuan melihat research gap.
Setelah itu, masalah tersebut diterjemahkan menjadi research questions yang spesifik, terarah, dan dapat dijawab melalui metode penelitian yang tepat.
Ingatlah bahwa judul penelitian dapat berubah selama proses penyusunan proposal, tetapi research problem dan research questions merupakan fondasi utama yang akan menentukan arah, metode, analisis, hingga kontribusi penelitian Anda.
Semakin tajam Anda merumuskan masalah dan pertanyaan penelitian, semakin besar peluang penelitian tersebut menghasilkan temuan yang bermakna dan bernilai bagi pengembangan ilmu pengetahuan.